Aku Neleeen duuitt…

Dalam perjalanan menuju kantor di pagi hari, gw lumayan rajin mendengarkan radio. Hanya permasalahannya, channel radio di mobil hanya bisa menangkap frekuensi ganjil, dan sedihnya diantara frekuensi2 ganjil itu yang tertangkap adalah:

  • radio2 berita
  • radio yang mengabarkan trafic jam jakarta di pagi hari
  • radio lagu mandarin (kalo lagunya masih top 40 sih gak papa, masalahnya ini lagu2 cina spt jaman kejayaan komunis tahun 60an gitu..)
  • Woman radio buat ibu2 muda (cerita ttg perkembangan anak, tips2..)
  • Kiss fm yang seakan membawa gw kembali ke tahun 80an,
  • radio2 dangdut dgn penyiarnya yang sgt bersemangat (“ Nyeeaakk Baabyee…Encyeaang Encyeiiing..Si Entiees dari Jagakarsa minta lagu neeech ..lagu dangdut berikutnya apaan niiy byaaang??..” Dan gw yakin bgt kalo yg bicara itu Mpok Atik..dengan suara seraknya, yg berteriak2 bikin pengaang..)
    radio yang ngomoooong terus, nada datar tanpa intonasi tapi berita gak jelas

Anihooooow…diantara ke-basi-an channel radio frekuensi ganjil tersebut, yg paling lumayan adalah U FM. Padahal kalo mau dirunut, pada jam pagi itu kadang2 penyiarnya membawakan topic dengan garing, dan yah sering bgt deh slot bicaranya diisi ad-lips…(bukan maksud mengkritik, krn walaupun garing toh gw pun selalu memasang channel ini)

Sebenernya bukan tentang channel radio ini yg pgn gw certain, hanya saja cerita tersebut ada hubungannya dgn yg pgn gw tulis saat ini.. Dimana salah satu topik yg menarik adalah ketika mereka membahas tentang Hal2 atau benda2 yang mengiringi tumbuh kembang kamu sewaktu anak2… Nah dari SMS yg masuk ke radio itu memang banyak sekali yg membuat gw jadi flashback kembali ke 20 tahun yang lalu semasa gw tumbuh kembang (ya oloooh 20 tahuuun???)

Pernah gak teman2 mengingat kejadian2 di masa kecil, spt apa yg menjadi kegemaran atau kejadian aneh yang pernah menimpa teman2… Nah, gw pengen cerita2 hal2 tsb diatas sebatas yg masih mampu diingat oleh memori otak gw, dimana sepertinya kapasitasnya terus mengalami degradasi dari waktu ke waktu.

BUkan utk narsis (krn gak ada hal yg bisa dinarsisin..) Gw cuma pgn menulis ini sebagai memorabilia daripada kalo2 nanti gw keburu lupa sama sekali kan? (kali aja bisa buat warisan cerita ke anak cucu):

Era tumbuh kembang di Flores

Errrmmmhh,,, iya teman-teman, saya lahir di Flores, 13 Desember. Bayangkanlah dengan Tempat tanggal lahir seperti itu, perlu nyaris dua dekade bagi gw untuk menerimanya dengan lapang dada,, Jadi ingat, waktu zamansekolah dulu pernah terjadi percakapan gak penting dengan Ibuku :

Akyuh : ” BU, Akte kelahiranku beneran nih di Flores? mana tanggal 13 lagi,, Ibu gak salah nih BU, coba ingat-ingat lagi BU, kali aja, waktu itu sebenernya aku lahirnya di Ostrali ,, ganti akte aja Buu,,yah,,yah,,”

Ibu : *bengong-face* Ibu memberikan tatapan terpana anakku-sedang-kesambet-opoo-meneh? ” Hyooongallaaah,,, Ostrali ko ngendiiii meneh? Nglindhur? Akte lahirmu ya wis bener ngono kuiii,,, Namamu RESTU tuh ndapetnya ya dari di floRES dapat anak saTU”

Akyuh : ” HaaaaaaHh?” (apakah ternyata orangtuaku memang kreatif, atau mungkin sebenarnya itu jawaban yg spontan dilontarkan daripada anaknya ngambek terus nggantung di pohon toge? entahlah)

Oke, jadi selama di Flores ini,, kenangan apa yah yang paling membekas? :

. . .
. . .
(berpikir keras) sptnya yg hanya bs gw ingat, di flores selalu gempa melulu deh
Era tumbuh kembang di Ambon (4-6thn)

Dikarenakan tugas Bapakku yang sering berpindah tempat, sehingga pada masa balita kami sekeluarga melabuhkan diri di propinsi Maluku tepatnya di Ambon (atau Paso? lupa-lupa ingat juga).

Kenangan yang paling membekas diantaranya:

  1. Sering bisulan yg tumbuhnya tidak pernah lihat lokasi (iyuuuughhh..)
  2. Setiap malam, Rumah selalu penuh dengan warga kampung yg ingin menonton film dari video Betamax,.
  3. Gw sering ikut kakak2 gw bermain di sungai deket rumah yang airnya sangaaat jernih dan bahkan saking jernihnya, kita dpt melihat puppy manusia yg segedhe tangan numpang lewat sementara kami bengong menatapnya..(Iyuuughh)
  4. Berenang di laut lepas hanya dengan ban pelampung (seruu!!) .
  5. Dan yang paling aneh, pada saat itu entah siapa yg mengajari, tanpa sepengetahuan semua orang tiba2 gw punya hobi aneh yaitu meng-emut uang logam Rp 50-an ,,, HYAAAA AMPUUUUNN NGEMUUUT DUUUIIT?

(Oke, memang gw jorook jadi jgn ditiru yaa). HIngga pernah pada suatu hari gw punya cerita,, Pada suatu sore, gw sedang sibuk berkomat-kamit meng-emut salah satu koin Rp 50 perak sambil nonton video di rumah tetangga. Ditengah2 acara, sepertinya ada hasrat yang mendorong gw untuk mendongakkan kepala diatas ,, seakan-akan ada yg membisikkan di telinga bahwa dilangit-langit itu ada dua cicak sedang gladi resik latihan balet 😛 ..

Yah oke, seperti sudah bisa ditebak, maka tertelan lah itu koin itu AAAAAARRRAGGHHH,,, Gw jd tidak bisa berbicara,, tidak bisa menelan, apalagi mengeluarkannya huhuhu.. Rasanya seperti biji kedondong yang nyangkut di tenggorokan. Dengan adegan slow motion, gw berlari pulang diiringi angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah, dan air mata pun menetes di pipi …

Kembali ke rumah

Akyuh        : ” ERRREBBBRUUU..ERGGRHHGKC..ARRGGHRGKS (dgn mimik seperti menahan pup, gw menangis, mengadu ke Ibu sambil menunjukkan kondisi tenggorokan)
Ibu              : ” Kamu kenapaaa? Makaaan apaa Nduuk?…Keseleek apaa” (Panik)
Akyuh        : “ARGRRGHKOOH NHHREELLEERRGHN OOOUUWAANGRGGG ..” (berusaha menceritakan kronologis kalo ketelen duit)
Ibu              : “ KAMU KEECEKEEK SALAAK” (tetap tidak mengerti,, walau paling tidak Ibu tau gw menelan sesuatu)
Akyuh         : “ERGGGKC..HOOO-OOOOH ARRGGHRGKS” (manggut-manggut, geleng-geleng, megap-megap, menangis meraung-raung)
Tetangga 1 : “Kauu telan kelereng naak?” (dgn logat amboon yaa..cateet)
Akyuh : “AARRHEGRHJK..NGGAAARRGRGKS” (ini sudah pakai bahasa monyet)
Tetangga 2 : “OOOO.. Saya tauuuu!! Itu anak, sudah kemasukan jin pohon belakang kaauu punya rumah..”
tetangga 3  : “ Tidaaklaaah sepertinya, dia anaaak tadii makan batuuu..”
Akyuh         : “EGRHJK..ERGGRHHGKC..ARRGGHRGKS” (muka gw merah biru)

*tiga menit berlalu..gw sudah mati gaya memperagakan kronologis kejadian, sementara mereka masih meributkan penyebab yg terjadi,,, HUOHOUHOHUOHOUHOU eh tapi ngomong-ngomong, Ibuku tadi hebonya sampai dimana ya? *

Setelah mengetahui apa penyebabnya, dengan semangat gotong royong, para tetangga dengan baik hatinya berbondong-bondong datang ke rumah baik itu yang memang ingin menolong gw, datang ke lokasi TKP, atau cuma pengen tau ada breaking news apa lagi kali ini,,, cih gak sekalian aja para pedagang Teh Botol dan Gerobak nasi goreng dadakan sekalian bikin pasar malam yah:

Tetangga 1 : *memberikan pisang * (gw muntah)
Tetangga 2 : *memberikan air* (dengan harapan bisa nelen tapi yg ada gw muntah dan tambah kenceng tangisannya)
Tetangga 3 : * memberikan apel * (apalagi ini, mana bisa neleeen tantee…)
Tetangga 4 : * menepok2 punggung gw* (emangnya gw cegukaaan?)
Dukun nyelonong :* menggumam2 gak jelas, katanya sih doa usir jin* (WHHAAT?)
Pastur dan suster : * baca alkitab* (tetap aja itu koin kutu kupret tidak mau keluar juga)

Setelah berbagai macam cara mereka usahakan untuk membuat koin itu keluar (atau kalau gak, sekalian aja laah koinnya ketelen ke perut, daripada nyangkut di tenggorokan) ternyata berakhir gagal.. akhirnya Bapak dan Ibuku (dgn diiringi rombongan tanjidor para tetangga kampung gw) membawa gw ke dokter di Ambon,

Sampai di Ambon, dokter paling canggih (pada saat itu) pun angkat tangan menyerah dan menyarankan gw untuk dioperasi di Ujung Pandang . Kenapa sampai harus ke Ujung Pandang, karena fasilitas operasi di Ambon masih belum bisa. HHHHHH Ccaapeee deeehhh…

Besoknya rombongan kecil ini pun diterbangkan menuju Ujung Pandang. Selama perjalanan itu, gw hanya bisa menangis-ngileeer-tertiduur-mangap-ngowoh-lalu-bangun-lagi, menangis-ngiler-tertidur-mangap-ngowoh-lalu-bangun-lagi begitu terus sambil berusaha menahan lapar. Perjalanan terasa sgt panjang karena dengan adanya koin di tenggorokan,, membuat gw cape, ileran, lapar tidak bisa bicara, tidak bisa makan dan tidak bisa minum atau menelan apa2 ,, malah zat ptialin-ku sangat bersemangat untuk berproduksi menghasilkan air ludah yg sangat berlebihan,,,

Sampai di Ujung Pandang (saat ini Makassar. red), ketika turun di bandara, dengan bahasa isyarat perpaduan antara Tarzan dan Monyet gw bilang ke Ibu bahwa gw lapar. Ibu tidak dapat berbuat apa2 selain hanya miris menyaksikan anaknya yang udah-kurus-item-keriting-mukanya-penuh-dengan-ileeer-semua-pula……

Singkat cerita gw pun menjalani operasi (pergolakannya maah gak usah diceritain yah). Beberapa jam kemudian, akhirnya gw sadar (TERIMA KASIIIH YA TUHAN, AKU MASIIIH DIBERIII IDUUPP) …

Gw terbangun di kamar rumah sakit, bangsal anak-anak yang bahkan gw tidak sempat berkenalan dengan room-mate gw.. Kemudian datanglah si suster membawa koin gocap konyol yang dengan sukses berhasil dikeluarkan dari tenggorokan.. Yah, gw sih lupa uangnya kayak apa yang pasti gw ingat UANG ITU MENGKILAAAP SEPERTI UANG BARUU.. (padahal waktu ditelen, kondisinya buleeghk bin dekil ..)

Begitulah ceritanya, hikmah dari ini semua,, mungkin ini peringatan supaya jadi anak tidak berkelakuan yg aneh2, dan paling tidak gw dapat beberapa pengalaman berharga :

  • Pengalaman pertama kali dengan kesadaran penuh gw Naik Pesawat terbang (walau gak dinikmati, karena ileraan melulu)
  • Pengalaman pertama kali gw Operasi dan satu-satunya selama hidup (Operasi ngambil duiit? Gak keren amat..)
  • Pengalaman pertama kali travelling ke Ujung Pandang (yah elaah ..cuma numpang lewat buat operasi gitu?)

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Aku Neleeen duuitt…

  1. Ping-balik: Meet the Ottoboy | Jerapah Keriting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s