Sholat Ied, waktu Indonesia bagian Pacitan..

 Widiiih baru saja mendapat update-an terbaru kalau sepupu gue Bona Dea Kometa, jadi finalis Asia Next Top Model cycle 2. Keren ya. Iya dong #saudara_harus_ikut_senang. Sedikit cerita tentang Dea pernah gue tulis beberapa abad yang lalu disini.
Nah karena sepupu gue bakalan goes Asiyenel, maka gue akan bercerita dengan bintang tamu kakak gue, Mba Rini… *Terus Dea nongol : laaah bukan aku ya mbak?*.. Eh.. bukan haha.. 

Sesungguhnya cerita ini adalah rahasia yang sudah terkubur di ingatan Mba Rini yang paling dasar. Baginya kisah ini merupakan aib terbesar dalam hidupnya mengalahkan malu ketika kapster salon nanya kenapa kepalanya ada pitak. Tentu saja dijawab, lagi musim rontok padahal aselinya keseringan dicabutin

Apah Marimar?,,, ada yang bocorin rahasia guweh?
eittss, jangan marah.. jangan maraahh… 
Pacitan


Yang paling gue ingat tentang Pacitan selain alam dan pantainya yang kece adalah perjalanan mudik lebaran yang benar-benar MUDIK.  Nyupir mudik ke Yogya? Biasaa,,, kecil itu mah.. Coba dilanjutkan nyupirnya ke Pacitan tepatnya desa Lorok yang berjarak satu jam dari Pacitan. Siap-siap gempor antar kota antar propinsi.

Sudah mirip banget sama soundtrack-nya Ninja Hatori. Kenapa? Karena beneran kita harus mendaki gunung lewati lembah persis kayak menuju tempat yang ada di lukisan pemandangan desa Indonesia. 
Tapi yang lebih seru kalau kita menjumpai rombongan takbir keliling. Rasanya mak nyess ketika berpapasan dengan warga yang konvoi naik truck terbuka, kendaraan pribadi atau hanya berjalan kaki sepanjang gunung membawa obor. Sesuatu yang jarang gue lihat di Jakarta.

Bicara tentang asal muasal jadi teringat percakapan kecil dengan seorang teman lama, kita sebut saja Madonna.. aselinya sih Asiya Ariyani *lah dikasih tau*.

Gue              : ” Madonna, kamu asli mana?”
Madonna   : ” Asli jakarta dong, lo dew? ” 
Gue          : ” Bapak solo, ibu Pacitan, lahir di Flores, nyaris nyawa melayang di Ambon, besar di Boyolali ama Solo, terus sekarang di Jakarta. Nah kira-kira asli mana tuh?”
Madonna   : ” Ih ribet ya, kirain Manado… ?” 
Gue            : “Mbikikikikkk.. Manado darimana? upil? mbikikikk?”.. Akting unyu-unyu banget kan? Padahal aseliknya mah. OH-MY-RIHANNA.. hidung ini pasti kembang tapi nggak kempis-kempis saking senengnya. 
Madonna   : ” Mudiknya?” Percakapan ini bisa selesai cukup dengan asl pls.
Gue              : ” Lorok” *Iya, gue tau,, namanya mak ho-hah banget memang*
Madonna   : ” Lorok? Elo ROk? Kalau gue celana panjang”
Kami           : ” Wkwkwkwkwk” (baca: wekawekawekawekaweka)

 
Mas Riyan,, tulong, mas..
Iki mbaknya sutris nggak sembuh-sembuh

***


Oiya, waktu kecil dulu suka baca majalah Anita Cemerlang atau Aneka Yess nggak? Itu loh majalah yang sebagian besar isinya cerpen. Biasanya suka ada cerita cinta di kampung halaman nenek toh? Apakah gue juga mengalaminya? Tentoe sadja…

…. tidak.


Pernah gue dikenalkan dengan teman-teman sepupu gue, kita sebut saja jama’ah alay-ers Lorok. Rata-rata mereka mirip dengan Abimana, Christian Sugiono, Dude Herlino atau Vino G. Bastian

… oke ini gue ngayal.. 


Kalau mau disamaratakan, wajah mereka mirip dengan salah satu pemuda Pacitan yang terkenal. Bukaan, bukan pak SBY. Naah. Iyaaa, yang ituuu tuh… *diem-diem nunjuk mas Ibas. Tapi versi lebih kurus, hitam, petentang-petenteng, rambut ala alay pada masanya .. eh ini Ibas apa Andhika Kangen Band? (Iya,, ngenes banget memang)*   


Nah, tiap lebaran tiba Lorok’s alay-ers ini selalu punya kebiasaan bertegur sapa khas :


Lorok’s alay-ers    : “Sugeng ariyaadiiin.., Kosoong-kosssooong yooo?”

Sepupu                      : ” Sugeng ariyadiiiiinn… Iyoo, rek kosong-kosong.” Juga berteriak.
Lorok’s alay-ers    : ” Eh mbaknya.. kosong-kosong ya mbak.” 
Gue                     : *ngerogoh kantong* ” Iyoo kok tau kalau kantong saya isinya kosong semua?” 
Lorok’s alay-ers   :

ya ampun mbaknyaaa…
pantesan mereka langsung malas tebar pesona

***

Lebaran 2004

Di rumah embah putri, seperti pada umumnya rumah nenek-nenek kita ketika musim lebaran tiba, kapasitas penghuninya dipastikan meningkat. Bisa dibayangkan yang biasanya rumah mbah putri itu sepi kini kamar mandi 4 biji harus dapat dibagi ke puluhan orang,,

Tau sendiri kan kalau wanita sudah berkumpul, mandinya antri banget mamaaa.. Jadi dengan antrian yang sedemikian rupa, malamnya gue dan Mba Rini memutuskan untuk menumpang mandi di rumah tante gue yang jaraknya sekitar 1 km.

Esok paginya, ketika matahari masih bangun malas-malasnan di ufuknya.. Gue dan Mba Rini sudah selesai menumpang mandi dan sedang dalam perjalanan menuju Balai Desa Pagerejo untuk sholat Ied berjamaah. 

Sambil berboncengan naik motor, kami menikmati udara desa di pagi hari. Kami menggoyang-goyangkan kepala supaya rambut panjang yang basah ini bisa berkibar cantik tertiup angin. 

Penampakan kami berdua sudah mirip dengan para rocker tahun 80-an. Iya Bon Jovi ama teman-temannya ituh.


Tidak berapa lama kemudian, dengan rambut njegrak ala Bon JOvi tadi, kami tiba di balai desa. Masih terdengar sayup-sayup gema takbir. Jama’ah sudah ramai duduk rapi. Ada yang sudah mengenakan mukena, ada juga yg belum. Gue putuskan untuk ke shaft paling depan (bukan karena rajin, tapi emang tempatnya sudah penuh, tinggal beberapa petak paling depan sendiri). 

Perjalanan seakan memakan waktu seabad lamanya. Melipir sana sini, permisi sana-sini dengan diiringi tatapan ingin tahu dari orang-orang. Mungkin selain wajah kami kurang ke-pacitanwati-an jarang-jarang juga kan lihat ada dua gadis tergopoh-gopoh dengan penampilan kuyub. 


Setelah mengenakan mukena, kami duduk kalem mirip Mamah Dedeh dan Ustad Solmed siap khotbah. Tentu saja kami juga manggut-manggut seakan-akan mengerti apa isi khotbahnya. Pura-pura anggun banget gitu deh. Gimana bisa ngerti, wong Bapaknya ceramah full pakai bahasa Jawa.. Kita kan fasihnya bahasa Uruguay?

… beberapa menit kemudian…

Ini kok laporan panitianya lama sekali ya? Apa mungkin kebiasaan Pacitan beda dengan Jakarta? Mungkin juga disini sholat nya setelah khotbah. Mungkin juga, tapi siang amat dong.

Akhirnya ceramah berbahasa jawa tadi berakhir dan semua orang mulai berdiri. Pasti sedang bersiap-siap sholat. Pasti. Gue yakin itu. 

Kami berdua juga berdiri siap-siap sholat

Etapi kok nggak mulai-mulai? 


Ternyata mereka yang sedang berdiri itu sedang melipat perlengkapan sholat masing-masing


… Gue punya firasat buruk deh


Perlahan-lahan kami berdua memerosotkan diri, kembali duduk di posisi semula
Bahkan para jama’ah di samping kami secara terang-terangan menatap kami sambil senyam-senyum dengan penuh arti.  

… jadi kami mulai berbisik sambil balas mesam-mesem ke Ibu-Ibu tadi… 

Gue               : ” Mba, sholatnya sudah selesai. Kita telat. Gimana ini?.” 

Mba Rini      : ” Hah? Sudah ya? Iya ya kita telat sih ya..”
Gue                : ” Iya mba.. dah bubar HAHAHAHAHA”
Mba Rini      :  HAHAHAHAHAHAHHA.” 
Gue                : ” HAHAHAHAHAHAHA”

ketawa histeris

Mba Rini     : ” HAHAHAHAHAHAHAHAH.” *terus sadar* Apaaahh.. Bagaimana mungkin?Aduh,, aku maluk.. Bagaimana kalau sampai ada wartawan yang meliput kita dan menuliskannya ke headline Pacitan Post. Judulnya ” Ada mba-mbak telat sholat Ied.” Mukaku mau ditaroook dimanaa?? Ditarook dimanaa?? Haaaa?”
Gue            : ” *hampir gue jawab… dihatimuuu*  

… terus kami pura-pura zikir… 
.. memicingkan mata.. 
… ngintip ke sekitar..

Mba rini    : “Orang-orang udah pada pergi belum? Apa semuanya ngelihatin kita… Ngga ada yang ganteng kan?”” *menundukkan kepala dalam-dalam. Nyaris persis kayak maling kepergok. 

Gue             : *sekilas ngelirik* “Masih rame, paling bentar lagi pada pulang..” 

… Lalu semua orang berdiri..


.. Yess, pasti mereka akan pulang kerumah masing-masing..


… Salah besar saudarah-saudarah…


…Warga Lorok membentuk barisan layaknya mau antri salaman sama penganten baru…


… Ya benar, ini tradisi, semua jama’ah saling antri bersalaman dan bermaaf-maafan…


… Berhubung duduk didepan sendiri, alias ditengah-tengah balai desa, otomatis nggak bisa kabur..


… Hanya berharap gak ada seorang pun yang menyadari keterlambatan kami…


… Sesungguhnya itu adalah suatu hil yang mustahal…


.. Bangun dari duduk seanggun mungkin, lipat lagi mukenanya, dan segera ngacir ke barisan paling belakang,, kalau bisa ngumpet di keteknya kucing…



Jadi gimana rasanya terjebak didalam situasi tadi?





HUAHAHAAAASYYYEEEEMMMMMAHAHAHAH 



Iklan

3 pemikiran pada “Sholat Ied, waktu Indonesia bagian Pacitan..

    1. lllleh toooossss dong mba Nurulrahma sebagai sesama warga Pacitan.. kirain hanya saya *dan pak SBY* doang yg berasal dari sini hihhihih..

      Bangunsari? Baguusss amat namanya mba.. saya perlu beberapa belas tahun menerima bahwa kampung saya Lorok hahha.. agak gimana gitu jaman sd nulis karangan pulang ke kampung nenek kok namanya LOrok.. biyasa tekanan sosial

      padahal mah kalau sekarang cinta. banget… Makasih ya mba NUrul mau berkenan mampir dan baca

      Suka

  1. Ping-balik: Nguping Ibuku #9 – Jerapah Keriting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s