Solo, Mei 1998..

Membaca postingan Mariska, membawa kembali ingatan kelam gue tentang peristiwa 19 tahun lalu.

Dan melalui tulisan ini, gue ingin bercerita tentang pengalaman yang tidak akan gue lupakan seumur hidupku. Peristiwa itu kita kenal dengan nama…

Kerusuhan Mei 1998

Sepertinya tidak banyak yang tahu jika kota asal presiden Jokowi yang terkenal akan kuliner dan budayanya yang kental, pernah memiliki catatan gelap dalam sejarahnya. Gue googling, dan artikel yang gue rasa cukup lengkap ada di blog ini.

Mungkin, ini salah satu bentuk kegelisahan gue tentang kondisi politik Indonesia akhir-akhir ini. Jadi, seperti biasa, tulisan ini dibuat hanya untuk berbagi pengalaman. Dan jikalau teman-teman yang pada waktu itu masih kecil atau dari daerah lain bisa mengetahui sejarah peristiwa itu saja, sudah cukup buat gue.

***

Mei 1998. 

Indonesia sedang berada pada salah satu masa terpuruknya. Krisis ekonomi, aksi ketidakpercayaan pada Presiden Soeharto dan pemerintahannya, demo mahasiswa yang menuntut presiden turun, sampai tertembaknya empat mahasiswa Trisakti yang berujung pada kerusuhan etnis.

Saat itu, gue sekolah di sebuah SMU negeri unggulan yang memiliki komposisi siswa pribumi dan etnis tionghoa sekitar 50%-50%. Di kelas pun gue pernah menjadi minoritas. Maksudnya, mereka mayoritas suka belajar.. sementara kami adalah kaum yang tetep nggak ngerti gurunya ngomong apaan.

Enihwei, hari-hari terakhir itu gue membaca koran dan melihat di televisi tentang kerusuhan di Jakarta. Kenapa Jakarta seperti itu? Tapi, itu kan di ibukota, pikir gue. Ini di Solo, kota yang terkenal dengan warganya yang ‘halus’. Pasti kota ini tetap tenang dan tidak terjadi apa-apa.

Kamis, 14 Mei 1998.

gue dan Astri

Pukul 14.30, gue bersiap-siap kembali ke sekolah. Siang itu kami ada jadwal olah raga.. Sampai lulus SMU, gue masih heran, kenapa jadwal olah raga sore-sore sik.

Dan waktu di Solo, gue tinggal di Solo Baru, yang lokasinya masih jadi tempat jin buang selingkuhan. Karena jaraknya yang jauh, biasanya gue membawa mobil dan menjemput sahabat gue, Astri ke sekolah. Tapi hari itu, gue memilih naik motor saja. Iya, dengan cuaca yang panas ngentang-ngentang menantang matahari.

Sepanjang jalan dari rumah Astri ke sekolah, kami membahas hal penting yang dibicarakan cewek-cewek SMU. Seperti curhat tentang pacar (baca: Astri, bukan gue), atau tentang betapa malasnya gue datang ke pesta ulang tahun salah satu teman, Jumat ini, karena gue bukan party person.

Tiba di sekolah, keadaan sepi. “Loh, sekolah tutup, tho? Kok nggak ada pengumuman apa-apa?”. Yamasak, dapat pengumuman dari whatsapp group, benda bernama handphone saja belum pernah gue lihat wujudnya. Kasihan yeee..

Karena jadwal kosong.. mari kita menyanyikan mars Deni Malik..”Jalan sore, kita berjalan-jalan sore-sore”.

Baruuuu saja beberapa kilometer dari sekolah, tepatnya di dekat salah satu landmark kota Solo, Pasar Gede, kami terhenti. Di kejauhan, tampak asap hitam pekat membumbung tinggi dari atas Pasar Gede.

HAH? PASAR GEDE KEBAKARANN!!

Kami melihat gerombolan orang yang jumlahnya baaanyaaaaaaak sekali.. Jumlahnya mungkin sudah mencapai ribuan. Kecuali sedang ada karnaval dan menyambut kedatangan presiden Soeharto mudik, belum pernah sepanjang hidup, gue melihat ada orang sebanyak itu berkumpul di jalanan.

Kami masih berhenti di atas motor. Bengong, memicingkan mata, berusaha melihat sejauh mata ini bisa melihat.. Mereka ngapain sik? Lihat kebakaran? Lalu gue perhatikan, tampak massa perlahan bergerak ke arah kami..

Tiba-tiba muncul beberapa pemuda yang menaiki motornya dan berteriak-teriak. Ini ada apa ya? Kampanye pemilu? Gue melihat mereka sibuk menghalau-halau orang-orang yang berdiri dan menonton di pinggir jalan..

“MINGGGIRRR.. PERGIIII.. PULAAANG..PULAANG! ” MULEEH.. MULEH KABEH!!”. BUBARR.. BUBAR!”. “ROSSOOOOHH!! RUSUUUHH…” “PODHO BAKAR-BAKARAN!!!”

Tanpa dikomando, gue dan Astri langsung lari tunggang langgang, tapi tunggang langgangnya tetep naik motor kok. Jantung berdegup kencang. Belum pernah gue merasa setakut ini. Menengok ke belakang, gue melihat massa sudah semakin dekat. Mungkin kami hanya terpaut beberapa ratus meter jaraknya. Aselik, kami takut sekali kalau ditangkap. Persis para survivor dikejar-kejar zombie di The Walking Dead.

Akhirnya, tiba di rumah Astri. Orang tua Astri adalah seorang haji yang rumahnya berada di pinggir jalan raya kawasan pecinan Widuran, Solo. Seperti umumnya rumah yang terletak di kawasan pecinan, rumahnya adalah ruko dengan pintu garasi tertutup rapat. Tampak masih ada beberapa mobil yang terparkir di sepanjang jalan yang sepi. Suasana mencekam. Rasanya seperti mau perang.

Kami langsung masuk ke rumah.. Garasi rumah teman gue yang biasanya dapat menampung beberapa mobil pada hari itu tampak penuh. Gue melihat ada teman kakaknya Astri, yang nasibnya seperti gue, terjebak tidak bisa pulang dan mau nggak mau nebeng di rumah orang..

Hening di luar.

Tidak, di dalam rumah.

Semua bercerita dengan penuh semangat.. Entah, apa tepat disebut semangat jika itu perpaduan antara takut dan shock atas peristiwa tadi.

Kami mendengar, bahwa para perusuh sudah bergerak sampai ke Widuran. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar teriakan. Kami mendengarkan secara seksama. Awalnya pelan dan samar-samar, tapi makin dekat, makin kencang dan beringas. Mereka meneriakkan kata-kata seperti “BAKAAARR.. BAKAAARR!!” “CINOO DIJARAAH!!”. Kami semua terdiam dan mengintip dari jendela garasi.

Gue lupa-lupa ingat, sepertinya papi Astri dan kakak lelakinya keluar rumah dan berjaga-jaga di depan garasi.

Orang-orang itu lewat.

Semuanya laki-laki. Tidak ada perempuan apalagi emak-emak naik motor matic yang ikut. Mereka merangsek mendekat. Dengan gaya sok jagoan, pria-pria itu memecahkan kaca mobil yang ada di seberang ruko. Beringas sekali. Mereka melempari kaca restoran dan kaca-kaca tempat fitness yang terletak di seberang rumah.

Belum pernah gue sebersyukur hari itu karena batal membawa mobil. Seandainya tidak, pasti gue tidak kebagian tempat perlindungan di garasi. Dan dijamin nasibnya akan sama seperti mobil-mobil ini.

Gue melihat mereka..

Tiap kali ada batu yang sukses memecahkan jendela..
Tiap kali mereka sudah berhasil merusak jendela mobil..
Tiap kali mereka berhasil menggulingkan mobil..
dan tiap kali mereka membakar ban-ban di tengah jalan

.. mereka akan berteriak-teriak semangat.

Pekik bahagia serasa sudah kelar melahirkan.. eh bukan itu ya perumpamaannya.. Pekik bahagia dan puas, seperti sekelompok supporter yang kesebelasan sepak bola cap kelurahan favoritnya baru saja menang piala dunia.

Waktu berjalan lambat.

Suasana di balik garasi rumah Astri masih hening. Senyap. Antara kaget, takut, bingung dan tidak percaya dengan apa yang kami saksikan. Ini kan hanya ada di tayangan televisi, kok bisa terjadi di kota Solo yang damai. Di depan mata sendiri pulak.

Takut nggak? Sepertinya tidak setakut jika dibandingkan ketika gue masih di jalan raya tadi.

Tidak lama kemudian, rombongan lain, yang jumlahnya lebih sedikit lewat.

Tampak ada beberapa teman lelaki gue. Mereka ikut melempar-lempar ke udara.. Gue dan Astri memanggil-manggil nama mereka, dan ketika mereka melihat kami, kami hanya memberi pandangan “Ngapain kamu? Ikut njarah?”.

Teman-temanku ini membawa tas plastik hitam besar. Mereka melempar dan membagi-bagian puluhan CD lagu yang masih terbungkus rapi. Ini penjarahan dong namanya?

Gue tidak tau apakah mereka menjarah atau ikut menampung semua hasil rampasan perusuh tadi. Mungkin itu yang dinamakan eforia, jadi merasa bangga bisa ikut serta menjadi bagian pergerakan ini. Tidak sadar, bahwa sebenarnya mereka sedang ikutan merusuh.

Menjelang maghrib, sepertinya keadaan sudah tenang. Kami akhirnya berani keluar dan duduk-duduk di trotoar depan rumah menyaksikan bekas kerusakan yang terjadi di mana-mana.

Sepi. Gelap. Di beberapa lokasi masih tampak asap hitam pekat di kejauhan. Pun, sesekali masih terdengar ledakan. Malamnya gue menelpon Ibuk. Ibuk mengabarkan aksi masa kini sudah mengarah ke perumahan gue, jadi Ibuk meminta gue untuk tidak pulang.

Terlalu lelah, akhirnya kami memutuskan untuk tidur cepat.

Beberapa hari kemudian..

Gue menginap beberapa hari di rumah Astri. Mungkin 2-3 malam. Setelah dirasa kota sudah kondusif, gue pun pulang.

Pagi itu, waktu masih menunjukkan pukul 06.30 dan gue sudah memacu kendaraan roda dua pulang ke rumah.

Gue. Baru. Melihat. Apa. Yang. Telah. Terjadi.

Pemandangan ini mirip dengan suasana Car Free Day tiap minggu, di mana seluruh warga tampak berjalan kaki di tengah jalan raya. Bedanya kami berjalan-jalan diiringi latar belakang kota yang sudah mati. Kota tempat aku besar yang aman, tentram, damai sudah luluh lantak. Hampir semua toko, tidak peduli itu milik pribumi atau bukan, terutama yang berlokasi di jalan utama Solo, musnah. Jalanan dipenuhi bangkai kendaraan bermotor yang rusak dan habis dilalap api.

Gue menangis.

Gue melihat hampir semua dinding bangunan bertuliskan “MILIK PRIBUMI”, “PRIBUMI”, “MILIK PAK HAJI.”

Semua fasilitas, landmark dan pusat perekonomian Solo hancur. Literally, benar-benar hancur, tidak ada lagi yang tersisa.

Kota ini kecil dan jumlah penduduknya pun tidak seberapa.. Tapi mengapa sih, harus dirusak?

Toko bunga, restoran, bank, dealer mobil yang ada di jalan utama seperti Jalan Slamet Riyadi, ludes dilalap api. Toko gudang beras di daerah Dawung, terbakar. Mall? Semua supermarket sudah tinggal bekas-bekas lalapan si jago merah. Padahal, supermarket yang ada hanya beberapa, itupun sekelas Matahari sudah paling bagus. Tega sekali ya..

Termasuk di kawasan Solo Baru. Kala itu, Solo memiliki tempat hiburan kebanggan warga berupa studio bioskop dengan jumlah terbanyak se-Indonesia. Namanya Atrium 21. Pasca kerusuhan, bioskop megah ini hanya menyisakan puing-puingnya saja.

Apakah ada korban jiwa? Buuuuuaaaanyaaaakk.. Yang dipublikasikan sih ‘hanya’ puluhan, tapi aselinya jauh lebih banyak dari itu. Dan rata-rata korban yang meninggal karena terjebak di dalam mall dan toko yang dibakar.

***

Ketika kegiatan belajar mengajar dimulai kembali, masih banyak teman-teman chinesse kami yang tidak masuk. Tapi dasarnya anak-anak SMU yang rajin belajar (mereka, bukan gue), teman-teman gue satu per satu akhirnya masuk sekolah dan mengikuti pelajaran seperti biasanya.

Adan teman gue yang datang memakai sendal jepit, ada yang memakai baju rumah, ada yang memakai tas plastik hitam pengganti tas sekolah karena rumahnya sudah terbakar. Melihatnya saja sudah membuat kami menangis.. Yang gue salut, mereka masih bisa ketawa-ketiwi seperti tidak terjadi apa-apa. Tetap pintar-pintar dan rajin banget belajarnya, pulak. Walaupun gue akui.. hubungan antara anak pribumi dan teman-teman chinesse di sekolahan gue seperti berada di atas kaca yang tipis. Tapi, semakin dewasa, gue semakin mengerti alasannya.

Setelah lulus sekolah pun, hampir kebanyakan teman-teman chinesse gue kuliah di luar negeri. Kami yang pribumi, tepatnya gue, cuma bisa kagum.. Ih, enaknya, tidak harus pusing memikirkan UMPTN.

Padahal mungkin saja, alasan mereka pindah ke luar adalah untuk mencari perlindungan. Karena Indonesia, sudah dirasa tidak aman lagi ..

***

Gue pikir peristiwa kelam ini akan masuk berita. Eh, ternyata nggak ada loh.. Blass. Seperti tidak terjadi apa-apa. Semua aman-aman saja. Kerusuhan hanya terjadi di Jakarta dan Medan saja. Apa mereka nggak tau ya kalau Solo juga sudah menjadi kota mati?

Dan perlu beberapa tahun untuk Solo bisa kembali pulih. Gue ingat, sebagai remaja yang ingin bergaul bak anak muda ibukota, #prett, kami bingung mau ke mana. Pusat perbelanjaan dan hiburan, nggak ada. Bioskop? Dih, cuma bisa gigit jari. Gaul di restoran? Boro-boro. Masak kita nongkrong di Pasar Klewer.

See. Semuanya rugi, kan?

Pelan-pelan warga Solo bangkit kembali.

Karena tidak adanya tempat untuk mencari hiburan. Banyak yang membuka usaha di pinggir jalan. Warung wedangan pun menjamur di sepanjang trotoar. Anak-anak muda, mau nggak mau, wedangan beralaskan tikar di atas trotoar.

Mungkin, itulah cikal bakal mengapa Solo terkenal dengan istilahnya “Wedangan, yok..”. Karena saat itu, bukan kami yang menjunjung tinggi kearifan lokal, tapi emang tidak ada tempat gaul lagi.

***

.. dengan teman2 sekelas setelah Ebtanas. Sebagian besar rumah dan tempat usaha keluarga mereka turut jadi korban.
.. reuni tahun lalu..

Tahun lalu, untuk pertama kalinya semenjak lulus, kami reuni. Tidak banyak yang kita bahas tentang kejadian traumatik ini. Hanya tersenyum kecut mengingat kenangan pahit masa remaja kami. Gue pun masih meminta maaf karena mereka harus mengalami ini. Tapi itulah keberagaman, teman-teman gue pun menanggapinya dengan santai.

Demikian cerita nan puaaanjang dan luaamaaaa ini gue tulis. Hanya sebagai pelampiasan keresahan hati gue akan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi lagi..

Semoga gue salah ya..

Tetaplah Indonesia menjadi tempat tinggal yang aman dan damai di atas perbedaan. Karena itulah yang disebut kebhinekaan.

***

Ps:

Gue hampir tidak pernah melihat TV Nasional. Tapi pasti ada yang salah, jika anak-anak sekarang lebih hapal Mars Perindo dibandingkan lagu Garuda Pancasila.

Hal kecil apa yang bisa gue lakukan? Sudah beberapa hari ini kami sepanjang malam menyanyikan lagu-lagu nasional sebagai pengantar tidur Aidan. Entah, ini sudah membawa perubahan atau belum, yang penting, gue sudah mencoba.

Gue berharap, kejadian yang gue saksikan pada hari itu tidak harus dialami oleh anak cucu kita.

Iklan

83 pemikiran pada “Solo, Mei 1998..

  1. simpulan: mba Dewi anak sma 3 solo. dan tajir melintiiir. bok rumahnya di solo baru gitu lhoh. pondok indahnya solo 😅😅😅. tahun 1998 itu kakak sepupuku mulai kuliah di solo. jadi mayan sering ke solo kan ya. hawanya gelaaaap banget ya mba. 2000 an awal, akyu juga kuliah di solo. ga ada tuh ya tempat nongkrong. jaman itu, singosaren sama matahari purwsari masih blm dibangun sepenuhnya pasca rusuh. trus di beberapa spot juga msh ada tulisan milik si ina, ini, anu. padahal udah sekian taun berlalu lho mba.. sedih ih kalo inget. semoga kejadian serupa ga berulang lagi ya mba. tetep optimiiis! 😅😅😅

    Suka

    1. hahahhahaa fakta-fakta itu benar semua kecuali part tajir melintir.. biasa-biasa aja bu San.. ada yg gedong, banyak juga yg tipe 36-45.. Sudah mirip Sanchai di sekolahannya Tao Ming Se..
      .
      ah iyaaa.. suram banget masa-masa itu.. Karena thn 99 aku sdh pindah,jd aku malah lupa berapa tahun yg diperlukan Solo kembali pulih..

      Suka

    1. Iya Mar.. parah banget emang. Pun memakan korban jiwa yg gak sedikit. Tapi gue akui dih, walaupun ramah dan halus warga solo emg dikenal sumbunya pendek. Tapi abis itu nyesal.. Untung semakin kemarin Solo sdh banyak prestasi spt yg kita kenal. Terus terang wkt reuni selalu di Solo, akunya yg gak pernah datang. Kemarin itu aja kumpul sama teman2 alumni yg ada di Jkt.. utk ukuran ngumpul.. lumayaan kok, walau hanya antar geng SMU aja.n

      Suka

  2. Aku pas kejadian baru smp 3. Lagi ebta bhs inggris hari terakhir itu. Kepala sekolah masuk kelas trus blg kalo yang udah kelar lgs balik bubar jalan gak boleh main2 nongkrong apalagi pacaran. Padahal itu hari terakhir ebtanaaas loohhh.. kita kan mau hura2. Lgs ga konsen ngerjain soal dan dapet jelek deh.. (excuse banget pdhl emang gak bisa karena ga belajar 😅). Di gerbang ortu2 pd jemput termasuk ortuku loohh.. padahal jarak rumah ke sekolah tinggal ngesot. Biasa juga balik sendiri kalo udah sore (ketauan sering ngelayap). Disini masih biasa2 nih. Kirain nyokap jemp karena menyambut anaknya kelar ebta. Kirain bakal ke McD… taunya sampe rumah dikunciin dalem kamar. Dikasih pentungan buat pertahanan diri. Bokap dan lelaki lain uda siap di ujung gang. Lalu tiap bunyi kentungan dan orang lari2 kita semua sport jantung. Nelponin sodara2 ga ada yg angkat. Denger kabar sodara ada yg dijarah lah dipukulin lah. Simpang siur banget. Kakak gua yg kuliah di oz sampe sejam nelp ke rumah karena line sibuk terus. Sambil nelp sambil nangis dia. Bokap uda suruh gua siapin barang berharga dan baju seadanya dikoper (trus nyokap ngamuk pas tau isi koper gua komik semua) terus maksa ke airport. Pdhl jalan di airport itu banyak yg dicegat dan mobilnya dibakar massa sementara wanitanya diperkosa. Gua jelas ogah lah. Gua blg apa pun yg terjadi gua tetep sama bonyok di rumah. Kalo pun mati mo mati di rumah aja dengan perlawanan. Paling ngga gua berhasil mentung dl lah. Gak pasrah2 amat. Huhuuu.. horor bngt kalo inget waktu ituu.. untuk bbrp saat jd trauma sama bunyi kentungan.
    Bener2 ga mau kejadian lagiii 😭😭 kurang ajar banget ya mereka yg mencoba adu domba kita buat kepentingan politik. Semoga Tuhan mengampuni mereka.

    Disukai oleh 1 orang

      1. hahaahahaa iyaaaaa benaar dirimuuh.. alis dan bibirnya goals banget.. eh matanya juga.. ama rambutnya juga. trus ost-nya juga baguusss (lah bahas telenovela si cantik clara). walau si cowok rada mirip van dame dgn celana jeans di atas pinggang.. yaa trimowaee tapapaaah

        Suka

    1. belum pernah denger cerita langsung atau baca secara detail tentang 98 ini.. di kampung pedalaman sumatera selatan nga ada keributan semua biasa aja ya lebih lagi aku waktu itu masih 8 tahun haha. cuma bisa berdoa semoga nga terulang lagi. aku jadi tertarik gimana ya sebenernya sudut pandang mayoritas dan minoritas ini? soalnya kata2 ini mencuat ya belakangan ini.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Ini sih sbnrnya kerjaan segelintir oknum aja yg ujung2nya politik. Mau mecah belah bangsa dia. Tapi percayalah, kita hidup berdampingan berbeda suku dan agama, sewaktu kejadian bener2 saling tolong menolong. Temen2 muslim sampe rela nginep di rumah dan pasang badan kalo diketok2 pintu rumah. Ini kejadian di temen aku sih. Intinya skrg kita harus makin bersatu padu dan jgn mau diadu domba lagi.

        Disukai oleh 2 orang

      2. Iya.. kt dibuat smacam proxy war ya Nad.. jd pikiran2 kt dimasukkan berbagai macam informasi dsb.. yg kalau disentil sedikit, BAMM!! meledak.. apalagi generasi skg adl generasi 90-an yg pd masa itu hidupnya lebih tenang dbanding ortu kt. jd belum tau gmn dampaknya akibat klo kt saling ribut sendiri.. yg aku takut, krn kurangnya info mrk menganggap kerusuhan mei sbg perisitiwa yg biasa aja, abai, bahkan takutnya klo menganggap kerusuham dan korban adl rekayasa.
        semuanya yg rugi, yg ketawa, di atas sana.. Amit2 jangan sampai deh.

        Disukai oleh 1 orang

      3. Hai Ade..
        .
        Hihi itu sebabnya alasan aku menulis pengalamanku. Krn tidak banyak yg tau apalagi media tdk ada yg memuat. aku hanya gak ingin kita abai sama catatan sejarah. Apalagi merasa kerusuhan mei tidak ada apa2..
        .
        Iya kita berdoa jgn sampai terulang lagi.
        .
        sudut pandang mayoritas-minoritas? menurut pandangan Ade sendiri gimana? 🙂

        Suka

      4. nga pernah mempermasalahkan itu si mba soalnya minoritasnya paling keturunan jawa atau bali dan itu ya baik2 aja. boleh juga ya d buat pertanyaan ke banyak orang sebenernya gimana si orang2 mandang minoritas.

        Suka

      5. Ahh iya iya.. good for you Ade :). Banyak faktor De, kalas dijelaskan panjang .. Sebenarnya dari kitanya sih baik-baik saja nggak ada masala, beda itu biasa..

        Dan kalau di Solo dulu, banyak faktor yg mempengaruhi.. mulai dari politik yg berimbas ke ekonomi, sosial, budaya..
        .
        Jadi kayak ada garis yg gak kelihatan. Kita hidup rukun, tp jangan saling ganggu ya. misal di sekolahku, ya ada masa di mana kelasku.. teman2-ku yang chinnese pasti maunya bergaul sama sesama chinnese, dan Jawa lebih klik dengan Jawa.. Tapi ketika pindah kelas, ya aku ada juga sesama teman pribumi dan chinnese kompaknya seru.

        Jadi, ada yang moderat, dan ada pula yang apa ya istilahnya, lebih kaku. Nah beda dgn di Jakarta, karena lebih plural ya biasa-biasa saja..

        Tapi ya ada alasannya, karena Solo punya sejarah gelap pernah tercatat 8 kali kerusuhan karena hal itu tadi..

        semoga nangkap maksudku yaa.. 😀
        .

        Disukai oleh 1 orang

      6. ngerti si mba.. cuma kan harusnya sekarang pemikiran semakin terbuka dengan majunya teknologi. jujur si ya bersukur juga ada sinetro indonesia yg banyak lebainya itu.. ini terjadi d kampung ku si mba dulu itu tv masih sedikit jadi pemikiranya masih kolot.. nikah dengan bukan yg sesama orang palembang itu di cibir apa lagi nikah sama orang jawa. sekarang dgn adanya sinetron banyak berubahnya jadi tau gimana dampaknya nikah yg d paksakan, cinta yg dilarang2.. haha ini seriusan loh haha y bukan cuma sinetron si berita juga pastinya ya. nah harusnya anak muda sekrg ini lebih berpikiran dewasa. bagaiman d kucilkan, di bully dll udh banyak contoh nya baik real maupun dari fiksi kayak d film. 😀

        Suka

    2. HAHHAHAHAHAAHA.. NAD ADUH MAAF. TP INI LUCUU BGT!..
      .
      Iyaaa.. aku aja yg tidak mengalami langsung, dalam hal ini, sasaran yg dicari para perusuh aja takut.. apalagi dirimu yg mengalami ya.
      .
      Iya, makanya aku tulis secara detil, krn pasti banyak yg tidak tahu atau kurang paham apa yg terjadi. Jd pada taken for granted catatan kelam Mei 98 itu..

      Suka

    3. Naddd…ini gimana sik..gue sedih tapi mau ketawa juga baca kisah lu. Segala komik pulakk yg diinget…hihi

      Setuju nad..gara2 oknum tertentu kita dikorbankan ya padahal mah masih baik2 ama temab beda suku dan agama.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Iii ini suer gua bukan mau lucu2an. Sebagai anak kutu buku umur 14 tahun dan jones pulaa.. apa coba harta yg selain berharga selain keluarga? Ya komiiik… wkwkwkwkw. Kayanya alam bawah sadar gua masih trauma de buat inget2 kejadian 98 itu. Menolak lupa sekaligus menolak ingat. Jadi ceritainnya berusaha ga terlalu dikenang2 yg seremnya. Amit2 ya jooo amit2 bangeeet… gak mau keulang lagi gua dah ada anak ginii 😭😭😭

        Disukai oleh 2 orang

      2. Nah itu dia, alam bawah sadar gak mau ingat. tp justeru harus ditulis Nad.. krn penting, terutama buat adek2 yg belum tau fakta yg sebenernya tjd.. boro2 musium atau landmark kayak sumur lubang buaya deh, spy jd tempat belajar sejarah kerusuhan etnis. Ada ngga sih?
        .aku pernah baca lo, dulu, klo kerusuhan mei sbnernya rekayasa, korban gak sebesar itu.. solo yg korban jiwa kejebak kebakaran dlm gedung aja puluhan aja gak ada beritanya. kan gila..
        .

        Suka

      3. hahahaha iyaa.. culas dan menjijikkan selali permainan mereka ya Jo.. sebenernya ketebak apa pola dan maunya.. itulah aku ingin generasi di bawah kt yg belum pernah mengalami langsung lebih open minded, biar gak gampang dihasut.. keliatan bgt mrk mau mengulang model yg sama.. bedanya klo dulu kesenjangan ekonomi dan sosial, kalau skg mau dibentrokin lewat politik identitas. CIH!

        Disukai oleh 1 orang

    1. Sama-sama Ge, informasi ini berguna saja udah cukup buat gue..
      .
      bukan gak seheboh Jakarta lagi Ge, tp minim pemberitaan. Tapi ngerti sih, untuk mencegah kerusakan yg lebih besar..
      Pdh selama berbulan-bulan itu kita kayak tinggal di daerah perang loh.. saking hancurnya semua bangunan..

      Suka

      1. iyaaa.. Dan itu gak bener, menurutku, justeru harusnya ada landmark atau semacam museum ttg sejarah ini.. macam lubang buaya, tsunami aceh. atau klo mau lebih joss kayak museum nazi atau khmer merah.. tp apa ya yg di atas sana mau.. nanti klo rakyatnya pinter, pola yg sama gak bs dipakai, gak bs diadu domba dong.
        .
        tumben bahasanku berat ya..

        Suka

  3. Mars Perindo ini gengges memang sis =____= simbak di rumah jg seminggu terahir ntah mengapa, rajin nyanyiin lagu2 perjuangan Indonesia. Mulai dr Indonesia Raya dsb. Ya baguslah anakku mulai diperkenalkan sama lagu2 perjuangan. Asal bukan lagu perjuangan cinta yak…. “Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan ttg diaaaa…..” owalah cita2 kok jadi wong edan ki piye lagu jaman saiki =_____=

    Suka

    1. Iyaaaa bener.. udah terdoktrin ngalah-ngalahin jaman TVRI. Malah jauh mending TVRI ke mana-mana. Bagus mbakmu Mem, hari gini, gak usah khawatir anak-anak gak tau lagu anak. better lagu2 perjuangan Indonesia kok, aselik..

      Disukai oleh 1 orang

      1. Ya Alloh taciiik! Kagak pernah nyetel tipi lokal apa pegimane sik, lol. Hari gini kok gak tau Mars Perindo itu ibarat gak update klo komik Doraemon dan Kungfu Boy udah terbit nomer baru, lhooo….

        Disukai oleh 1 orang

      2. nah, jd tambahan info lagi ni buatmu Cik.. sementara kt bisa gak nonton tv.. hampir di penjuru Indonesia, anak2 lebih hapal mars perindo drpd garuda pancasila. Ingat gak, jaman TVRI tiap baru mau mulai jam siaran diputar garuda pancasila.. trus kalo mau habis siaran lagunya apa ya, Indonesia Pusaka atau Rayuan Pulau Kelapa.. klo yg kayak gini, hormatku buat pak Harto deh..

        Suka

  4. Ira

    kayaknya Mars Perindo tuh lagu kesukaan anak-anak banget ya!! mereka bisa loh pada diem kalo dinyanyii n itu -___-” *ini pasti ada yang salah deh

    Berhubung masih piyik, cuma denger2 santer aja soal kerusuhan. Dibaca lagi serem banget ya mbak Dewi. Paling kesel emang sama oknum2 yang ikutan ngejarah dan ngerusak ><

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hai Ira.. Iya, mungkin kita yg di kota besar spt Jakarta bs memilih tayangan yg mau kt lihat dgn adanya banyak pilihan. Tp di daerah, nggak say. Temen2ku sambil guyon bilang klo anak2 pd hapal mars Perindo. Miris banget kan. Aku wkt mudik di rmh cm ada channel tv nasional.. itu jaringan MNC dikit2 mars perindo.. kalah dah propaganda TVRI jaman dili..

      Suka

      1. bukan salah mereka juga mba Ir.. krn ya media kan itu yg mrk tonton sehari2. dulu jaman aku kecil, emg paling hapal garuda pancasila.. jd ya sdh masuk dlm bawah sadar. mulai skg yuk.. kita yg dewasa gaungkan kembali apa yg bs kt lakukan.. hehehhee.. bukan sok wise aja, cm pengen melakukan sesuatu.. tp apaa.

        Disukai oleh 1 orang

      2. itu aku salah satunya, walaupun dia suka superhero khas anak cowok tp pgn anakku cinta ama Indonesia.. krn anakku visual ya kenalin Indonesia dr yg bs dia lihat.. lihat peta, pulau2, sebisa mungkin ke daerah2 di luar tpt tinggal. atau sederhananya kayak main ke istana boneka, ragunan.. kayak PPKN jaman dulu si mba Ir.. back to basic.
        tp entah bener apa nggak, aku jg butuh masukkan..

        Disukai oleh 1 orang

      3. Ira

        aku setuju tuh mbak..kalau mau dikenalin indonesia lewat dongeng2 daerah kyk zaman kita dulu mbak dewi…atau nyanyi2 lagu2 daerah. jadi kenal jg kan sama suku2 dan sedikit bahasa daerah.

        Disukai oleh 1 orang

  5. Aku baru tau kalo Solo juga rusuh segitunya.. Dan baru tau kalo anak anak sekarang lebih hafal mars perindo. Sama sekali belom pernah denger aku. Untung K gak pernah nonton channel lokal (gak ada yang sebagus acara jaman aku kecil soale) *sad*

    Suka

    1. Tashaaaa apa kabaaarr?? Gile akhirnya hadir ke permukaan jg.. Iya Tash.. itu yg buat sedih jg sih, tdk banyak yg tahu ttg perisitiwa ini.. Yg tahu ya Solo tu yg sekarang, apalagi pasca Jokowi.. sebelumnya? suraamm..
      .
      iyaap.. banyak Tash, apalagi di daerah yg memang pilihannya hanya stasiun tv lokal. begus K gak nonton, aselik gak penting kok. tp penting buat kt ibunya klo merasa ini gak bener..

      Suka

    1. Iya Ji.. wajar kok, sama sekali gak ada publikasi medianya. krn mencegah kerusuhan lebih luas kayaknya.. tp ya itu aku merasa, gak bener ni klo generasi sekarang, apalagi, santai spy tdk terjadi apa..

      Disukai oleh 1 orang

  6. Di sini ada beritanya Solo juga rusuh Dew walau ngga sedetil Jakarta. TFS ceritanya. Aku suka baca blog karena ini, pengalaman pribadi. Khusus pos ini dan posnya Mariska walau ceritanya ngeri dan menyedihkan tapi penting untuk dituturkan kembali oleh yang mengalami sendiri. Biar yang lain baca. Semoga ngga terulang lagi karena yang rugi toh semua pihak #menolaklupa

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hai mbak Yo.. oh sampai di Jkt ya. Iya, mgkn krn cakupan Jkt lebih luas ya mba.. pdh di Solo damage errornya mencakup seluruh kota, dan banyak jg korban yg mati sia2 di plasa2 itu.
      .
      Aku nulis ini spy jd pelajaran dan informasi buat adek2 yg pada masa itu masih kecil dan skg sudah dewasa..

      Suka

      1. Sampai di Belanda Dew, waktu itu aku udah tinggal di Belanda. Laporan TVnya lumayan bagus, bahkan live report begitu mahasiswa masuk gedung MPR sampe si eyang lengser.

        Suka

  7. Wahhh baru tau aku solo ikut kena kerusuhan. Mei 98 aku lagi skolah di boarding school malamg wi..jadi ndeso banget cuma liat berita dan telponan ama mamak dibjkt yang jemput adekngue jalan kaki dari slipi sampe cengkareng..sambil ngeliat slipi jaya dibakar2in dan barang dijarah2in. Seminggu kemudian ada pasar loak dadakan yang rame banget pada ngejual hasil jarahan dari barang elektronik sampe sabun sampo segala. Gilaaaaakkkkk!!!

    Untunglah kamu bawa motor ya wi..kalau mobil mahhh susah juga puterbalik n parkirnya..kebayang itu traumanya ngeliat ribuan orang ngejar2 errrr

    Mudah2an orang Indonesia pada makin pintar yaaa

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iyaaa Joice.. semua tdk fokus ke Solo krn kerusuhan itu berbarengan ama Jakarta yg lebih meluas. Aku baca, medan jg sempat rusuh.. tp aku belum cari tau lebih detil lg ceritanya.
      ya ampun, jauuuhh bgt Ibumu dan adekmny jalan. Dan itu memang, pd menjarag, krn sdh titik akumulasi akibat kecemburuan sosial dan ekonomi. ditambah krisis ekonomi. La di solo, yg pd mbakar2 dan njarah itu malah ditepokin kayak pahlawan ama masyarakatnya yg nonton Jo.. gilaaaaaaak bgt.
      .
      Iya bener.. klo dipikir2 Alhamdulillah aku beruntuuuung bgt. gak ngerti lagi klo aku kejebak gak bs pulang.. mrk gak lihat itu pribumi non pri soalnya, ada mobil di jalan dirusak dan di bakar..

      Suka

  8. sedih wi, aku tuh kayak dilindunggi Allah juga lah tahun segitu
    inget bgt deh, mau les pagi (aku masuk siang) tapi ternyata ga ada yang masuk, sama gurunya dipulangin aja, tapi ga ada angkot, terus gue dikasi ongkos ojek sama bu guru itu buat pulang ke rumah, dan ternyata ga lama (paling cuma 30 menit) setelah gue pergi, di depan tempat les udah chaos, udah bakar2 ban, takut bgt deh rasanya hari itu 😦

    Suka

  9. mamipapa

    Kayanya waktu itu kita siaga 1, yg laki2 (1 gang rumah) jaga sambil bawa tombak dll sementara yg cewe udah pada masukin paspor dalem celana trus disarankan yg ce pake soft*x yg dilumurin sama saos tomat. Situasinya sih bener2 ngeri..pasalnya abis penembajan kan ada pop bensir yg dibakar itu dan komplek rumah kita yah belakang pom bensin itu (cuma gak persis deket yah) tapi dr rumah naik balkon keliatan bgt asep item membumbung tinggi…serem deh apalagi denger kiri kanan (wah daerah sini sudah habis, wah toko tetangga dijarah abis, wah di sini udah dibakar, wah di sini ada yg diperkosa).

    Waktu itu aku baru daftar Trisakti hahahaa sama mama disuruh pindah LN krn takut udah perempuan, minoritas ganda masuk Trisakti yg ada penembakan…tapi yah pada akhirnya aku kuliah Trisakti juga habis males dan sayang duit jaman itu kan krismon besar2an (bulan September kan udah aman sepertinya)

    Semoga nggak terulang lagi bencana kutuk itu…baru tau loh kalau Solo parah juga…

    Suka

  10. Wktu kejadian aku masih kelas 3 SD, tp inget bgt gimana mencekam & deg-deg’annya kondisi itu
    Wkt itu kami semua takut bgt,malam tidurpun smpe suka tiba2 kebangun dgn paksa harus langsung melek! Krn ada kabar gerombolan org mau masuk daerah rumah kami
    Bibi aku pun di daerah tanggerang situ juga kena jarah toko sembako’nya, bahkan rumahnya juga dijarah habis, smpai sepupu aku (lebih kecil 1thn dr saya) gak punya pakaian ganti lagi,hanya yg melekat dibadan 1 1’nya,,aku smpe kasih’in baju2 aku ke dia sambil nangis (nangis sedih krna kasihan ke dia bukan sedih bajuku dikasih ke dia)yg lebih bkin sedih lagi yg menjarah itu tetangga2 dia juga,,kl dipaksa ingat lagi, saat itu sedih banget udh kayak end of world, walaupun masih kelas 3 SD,tp aku sangat ingat dengan jelas suasana mencekam Mei itu,,
    Rusuh yg di Solo juga aku tau, karna dulu wkt masih kerja bos aku itu org Solo,jd pernah beberapa kali cerita soal kejadian rusuh di solo itu

    Disukai oleh 1 orang

    1. Betapa tuwaaaknya diriku ya hahahahaha, rata2 yang komen di sini dulunya masih SD hihhihi..
      .
      Maaf ya Yuvi, beneran, dari hati yang paling dalam.. aku minta maaf sampai dirimu dan keluargamu mengalami hal-hal traumatik seperti itu. Kita sama-sama tahu, itu perbuatan org2 yang sengaja pengen kita ribut karena selama ini.. para temen2 etnis tionghoa lebih pasrah dan tidak banyak melawan..

      Suka

  11. baru mampir lagi ke blogmu mbak. Ikut sedih baca ceritanya. Btw bener juga ya, mungkin ide untuk menyanyikan lagu2 nasional ke anak kita bisa menjadi salah satu cara untuk menanamkan nasionalisme dalam diri mereka, walaupun mungkin gak instan ya. At least kita mencoba. Ah mau nyoba juga buat anak2ku deh.

    Btw ini aku baru tau blognya ada lagu2nya gini….lagunya sopo iki mbak? Trus gimana cara pasang lagu di blog begini? *norak

    Disukai oleh 1 orang

    1. akupun tak tau kok mba Imel.. sdh benar atau belum, at least ada yg dilakukan lah hehe..
      .
      oh hahaah.. jd malu.. tetiba pengen iseng alay dikit kasih lagu ke blog. biasa untuk sementara waktu..
      Cara masangnya pilih lagu dari soundcloud, lalu share/copas ke text widget mba Imel.. mangga atuh, dicoba mbaaa.. hihi

      Disukai oleh 1 orang

      1. ihiiiiyyyy…. enak kan mba Imel.. aku si kayak kembali ke jaman era Radiohead. Yg nyanyi SaltNPaper mba.. penyanyi indie yg lagunya dijadiin OST drama korea hihih..

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s