Tiba-tiba beranak tiga..

September 2015.

Kali ini gue ingin menyelesaikan draft cerita gue ketika sempat tinggal di Medan. Ini adalah semacam cerita sambungan dari postingan yang ini.

Jadi selama gue di sana, gue benar-benar menikmati peran gue sebagai nyonya lengkap dengan asisten-asistennya. Aidan pun sempat merasakan menjadi murid TK di Medan.

Nah, apabila dibandingkan dengan sekolahnya di Jakarta, jam kepulangan TK di Medan ini lebih lama. Jam 1 boook.. Sebagai emak-emak yang hampir selalu ada di sisi Aidan selama 5 tahun pertama kehidupannya, tentu saja aku bersorak horay.. Wiiiii, begini ya rasanya jadi ibuk-ibuk yang anaknya masuk sekolah.. Waktu golar-golernya jadi lebih lama.. Yay!

Bayangkan, setelah melepas anak serta para keponakan berangkat sekolah, hari-hari gue hanya diisi dengan leyeh-leyeh saja. Tujuan hidup? Apa itu tujuan hidup? Pokoknya..

Hari-hariku hanya diisi dengan tiduran di sofa, nonton TV, makan, tidur, main internet, bahkan ngemil Ucok Durian sendirian. Kalau nggak mikir lemak, ~~yang pada prakteknya memang nggak pernah dipikirin~~ bisalah gue ngemil Durian pagi-sore-malam. Pokoknya, beneran seperti dugong sedang berjemur.. Tinggal senggol, pasti langsung ngglundhung

Oke, sebelum gue beneran berubah jadi dugong nista.. Gue mau cerita dulu pendapat gue sebagai pemain cadangan warga Medan..

Kesan pertama? Gue suka Medan.

Sebagai kota besar, kondisinya tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Kecuali pengendara di kota ini nyawanya ada 9. Gue nyebuuuut melulu tiap liat mereka. Tapi kekagetan gue sebanding dengan kuliner Medan. Enak-enak banget, mamiih.. Kalau sudah menemukan teman yang cocok, gue bisa membayangkan diriku tinggal di Medan ini. Tapi, kesimpulan ini hanya bisa gue ambil ketika Medan sedang musim hujan.. entah bagaimana ketika musim kemarau.

Apakah tidak ada cerita tentang Medan yang membuat gue shock? Oh tentu saja banyaaak..

  • Ini Medan, apa tempat tinggalnya Edward Cullen?

Gue       : “Ya ampun, Medan hawanya enak banget sih.. Emang setiap hari mendung ya? Enak ya kalau tiap pagi berkabut seperti ini..”

Asisten : Itu bukan mendung bu, itu asap kebakaran hutan..”

Ya ampun! Gue pikir, mendung itu karena kabut pegunungan ternyata efek asap kebakaran hutan. Untung hampir setiap hari turun hujan, jadi hawa memang masih sejuk.. 

  • Setiap hari sih hujan, tapi…

Gue            : *bengong lihatin hujan* “Kakak-kakak.. Hujannya deras banget yaa..”

The Girls  : “Iya tante, setiap hari memang gitu..”

Gue            : “Tapi pasti nggak pernah kayak Jakarta yang sering banj… LHOO.. LHOOO.. KOK BANJIR. BANJIIR! GIMANA INI?” Tiba-tiba halaman sudah digenangi air. Meskipun masih setinggi telapak kaki, tetap sajaa air mulai masuk ke dalam rumah..

Gue            : “Mbaaaak Tinii.. Mbak Tinii.. BANJIIRRR.. INI AIRNYA MASUK RUMAAAH..” *panik, gue berlarian ke sana ke mari.*

Girls          : “Emang gitu tante kalau hujan deras… Banjir. Pernah masuk ke dalam rumah.. semua bukuku basah.. Makanya semuanya ditinggin.” Etdah gue yang panik ketemu banjir sudah ngibrit nggak karu-karuan, eh si gadis-gadis ini biasa aja.

  • Habis banjir, terbitlah….. 

mati lampu.

Gue           : “AAAAKKK INI MATI LAMPU GIMANA INI..”

The Girls : “Lilin, lilin di mana kak?”

The Girls  masih menyikapinya dengan santai meninggalkan si tante yang terbengong-bengong dengan kondisi kota ini..

The Girls : “Tenaaang tante. Ini sudah biasa.. Sehari Medan nggak mati lampu saja sudah bagus.”

Gile, ternyata Medan sering bikin gue sport jantung juga…

*** 

 

Begitulah awal mulai gue beradaptasi dengan kota ini.

Jadi, mari kembali ke kehidupan gue sebagai emak-emak kebanyakan ngayal..

Pasti semua setuju, jika sudah memiliki anak, liburan belum tentu ‘bisa’ liburan. Pada prakteknya, liburan berarti memindahkan rutinitas di rumah ke tempat baru. Alias, sama aja bunee..

Tapi kali ini ada satu hal penting yang gue lupa.. Ternyata selama tiga minggu ke depan gue akan menjadi…

… SINGLE PARENT DENGAN TIGA ANAK!!

OMG! Apa yang sedang gue pikirkan?

Bagaimana kalauuu…

  • Anak-anak sakit yang memerlukan tindakan ke rumah sakit? *amit-amit jabang boker* *ketok-ketok jidat sendiri*
  • The girls sedih-galau kangen orang tuanya?
  • Aidan tidak betah di Medan?
  • Gue yang sakit?
  • Ada apa-apa dengan rumah kakak gue sementara gue adalah penanggung jawabnya selama 3 minggu ini?

Untungnyaaaa.. Apa yang menjadi kekhawatiran gue tidak pernah terjadi.

Ternyata kunci kewarasan menangani anak 3 adalah HARUS PUNYA SUPPORT SISTEM.

Apapun itu.

Bisa Asisten rumah tangga, keluarga, saudara, daycare atau hanya sekedar abang-abang Gojek. Kita bukan super woman yang bisa semuanya. Kalau bisa, bagus.. tapi kalau ada support system yang membantu, kenapa tidak..

Jadi, semuanya aman tentram damai sentosa dooong…

Ngggg… Anu, bang.. Kehidupan tidak semulus editan foto Instagram.. Mau tidak mau, gue harus menghadapi yang namanya… anak-anak sakit.

  • Sedang sakit, maka terbitlah ngga mau makan.

The Big Girl sakit demam.

Sudah demam, kangen sama orang tuanya pulak. Aura murung si Kakak sudah mirip tampang gue kalau lagi tanggal tuak. Mendung berhari-hari.

Untuk menghibur hati si Kakak yang sedang galau, gue mengajak anak-anak makan di mall. Pilihan jatuh pada restoran asia.  Jujur, gue tidak begitu menggemari menu sebangsa bebek-bebek. Kalau urusan bebek, aku hanya tim bebek Slamet #prinsip..

Tiba waktunya memilih menu..

Gue dan anak-anak kecil sudah memutuskan untuk memesan nasi goreng dan aneka dimsum. Si kakak? Diam. Manyun. Mengendikkan bahu dan menolak makan. Aduuhh.. Kayak begini ya menghadapi pre-teen? Kok gue mulai cenat-cenut. Akhirnya gue membebaskan si Kakak untuk memesan menu kesukaannya. Ia pun memesan Ca Brokoli. Ketika gue akan memanggil pelayan, gue melihat harganya. Rp 70 ribuan untuk seporsinya.

HAAAA CUMA BROKOLI TUMIS BAWANG PUTIH AJA Harganya hampir seratus rebuuu?? Ini brokoli apa rambutnya Ahmad Albar? Rasanya gue mau rebonding itu brokoli. Mahal kalii kau..

Dengan kekuatan uang di dompet, gue langsung memesankan menu-menu yang masih masuk ke spektrum kewarasan emak-emak ini. Tentang si kakak yang sedang galau? Yastralaaahyaaa... Nikmati saja menu yang sudah tersaji. Mau makan, bagus.. Nggak mau, ya gue yang ngabisin.

  • Aidan ke Dokter Gigi.

Setelah kakak sembuh, kini giliran Aidan yang mengeluh sakit ketika mengunyah.

Aduuh.. jangan sakit gigi dong, Naak.. Apalagi, jujur, Aidan belum pernah periksa ke dokter gigi secara resmi. APAAA? BELUM PERNAAH?? Ikatan Itenas alias Ibu-Ibu Teladan Nasional pasti langsung copot jantungnya.

Dan hari itu, gue memutuskan harus segera ke dokter gigi ketika mendapati Aidan sedang menikmati sereal langsung berjengit kesetrum. “Gigiku sakiiiit..”, rengeknya.

Kata kakak ipar, ada tetangga yang kebetulan seorang dokter gigi dan membuka praktek di rumahnya. Fiuuh lega..

Tiba di depan rumah sang dokter gigi.

Rumah itu tampak sepi, seperti layaknya komplek perumahan TNI pada umumnya. Hanya ada dua anak SD yang sedang duduk-duduk di teras. Kemudian mereka mempersilakan kami ke ruang prakteknya. Gue dan Aidan, yang masih lengkap dengan kostum dan topeng Kapten Amerikanya, masuk ke dalam.

Ruang praktek itu berukuran sekitar 3×4 m.
Tampak kursi periksa gigi menghadap ke layar televisi. Mungkin ini maksudnya supaya fokus perhatian si pasien teralihkan ke acara TV. Biar ndak tegang, ngono loo..
Di dalam ruangan itu ada tiga orang dewasa yang sedang duduk di dekat kursi pasien sambil menonton tayangan di TV. Tadinya gue pikir mereka adalah pasien, tapi ternyata bukan, karena ketika kami masuk, Ibu-ibu tadi kemudian beranjak ke dalam rumah.

Tiba saatnya Aidan diperiksa sang dokter.

Ni anak, yaaa.. Dia cengar-cengir menikmati sensasi di kursi periksa sambil mengamati banyaknya alat-alat kedokteran gigi. Tentu saja dia hanya mangap selama dua detik. Sisanya? Dia malah ketawa kegelian dan mengatupkan bibirnya ketika akan diperiksa.. Bagimana iniii?

Bhaaaiiiqq.. Dengan terpaksa gue harus mencontohkan apa itu yang namanya membuka mulut. Di depannya..

Gue     : AIDAAAN AAAAKK!! AAAKKK!! Gini naaak.. buka mulutnya yang besoaaar..” *lalu mangap segede dosa*

Aidan  : “Aerggggh… errrgghh…AAAAKK” Buka mulut untuk kemudian segera dikatupkan kembali. Fokusnya teralihkan ke tangan dokter dan benda-benda yang akan masuk ke dalam mulutnya.

Dokter Gigi : *mulai ikut cekikikan* ” Nggak papaa.. Ini giginya bagus semuaa. Itu gusinya aja agak bengkak. Cuma mau tumbuh ajaa giginya.. Yuk, buka mulutnya lagi yuuk..”

Gue      : ” Kayak yang di buku itu loh. YOK BUKA MULUUUT AAAAKKKK AAAKKK..”

Aidan  : ” Eerrrrgghh…. errr… AAAAK.. ” Membuka mulutnya lebar-lebar, untuk kemudian ditutup lagi. Kali ini lengkap dengan peralatan tempur dokter gigi di dalam mulutnya..

Gue      : ” AAAAkk.. ”

Aidan  : “AAAAAAK..” *terus mingkem*

*begitu terus*

Kek mana pula ini caranya?

Demi mempertahankan anak gue mangap selama mungkin, terpaksa gue harus menjadi supporter paling norak seruangan itu. Nggak usah dibayangkan, yaaa.. paling beda tipis dengan goyang-kebelet-pipis ala girl band k-pop gitu lah..

…ngimmmpiii..

Pokoknya, norak aja.. Lalu gue merasa ada yang memperhatikan gear-gerikku..

Dari sudut mataku, gue melihat dua anak tadi sedang duduk di kursi tunggu sedang menonton TV. Kebetulan, si TV masih ada di belakang gue.

Dan di sanalah, mereka cikikikan menonton gue.. Kenapa harus ada yang liat gue menirukan Teletubbies siih? Mungkin, kalau diaplikasikan pada saat ini, setiap gue berhasil membuat Aidan mangap, maka anak-anak itupun akan lantang berteriak…

Iklan

Diterbitkan oleh

dewi

Illustrator yang aselinya malas nonton drama korea, pengennya masak-cuci piring aja..

10 tanggapan untuk “Tiba-tiba beranak tiga..”

        1. hahahahhahahaha.. tapi kayaknya udah nggak ada asap lagi kan ya Mba Non. Tahun depan kakakku mau balik for good ke Jakarta.. harus ke Medan lagi ni.. kangen dengan makanan dan (kelakuan) orang2-nya..

          Suka

          1. Alhamdulillaah.. senangnya sudah nggak ada kebakaran hutan lagi. Siiipppoooo, next time aku berkujunjung ke Medan kukabari dirimu ya Mba Non.. Samaa, kalau main ke Jakarta dirimu bikinlah meet and greet hehehehhe

            Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s