Ibuku dan Duta Sheila On 7..

 

Tadinya gue ingin menulis pengalaman menyebalkan dengan percetakan Snopy. Tapi terus kumalas, karena artinya jika membaca postingan komplain tersebut, gue akan teringat lagi bagaimana kesalnya diriku.

Begitulah, jadi kembali gue cerita tentang Ibuk saja.

***

Pertama, gue ingin bertanya…

Apakah tetangga dalam satu kelurahan yang kalau ketemu hanya di lapangan sholat Ied masih bisa disebut tetangga? Moaaa…siiiiihhh…

Oke, jika demikian, maka Ibuku dan Duta Sheila On 7 adalah tetangga.. Errmm..

Iyain ajalah yaa, anggap saja begitu. Seperti halnya gue adalah tetangga Chico Jericco.. Gue sih yang ngaku tetangganya, sementara doi menyadari kalau gue nguap mangapnya gede banget, cencu cidaakk..

Nah, kembali ke cerita Ibuku.

Alkisah, Ibuku ini adalah seorang nenek yang gemar membawa tas dengan berat sebesar beban hidup manusia.

Isi tasnya selalu penuh.

Entah apa aja isinya. Kadang gue bertanya dari mana kekuatan emak gue membawa gembolan itu kemana-mana.. Selain tas tangan ada pula tas jinjing berisi air minum dan mukena. Mukena besar pulak. Sudah sering gue memberi saran Ibuk untuk tidak membawa terlalu banyak barang.. Tapi apalah aku, saran didengar kagak, disuruh bawain tasnya Ibuk, iye.. bhuhuhuh..

Mungkin itu juga yang membuat gue tanpa sadar sering ribet jika bepergian. Lalu habis itu, gue bertanya-tanya dari mana asalnya gue susah untuk light packing. Yojeelasss soko simbookk…

Enihweiiihh.. salah satu benda berat yang selalu dibawa Ibuk ke mana-mana adalah kamera saku. Bukan, bukan kamera Fuji nan cantik yang jadi senjata andalah para selebgram maupun anak remaja saat ini. Kamera DSLR? Boro-boro.. Yang Ibuk bawa adalah kamera digital yang dulu pernah berjaya sebelum ada teknologi kamera HP.

See?.. Sebagai nenek, Ibuk nggak jadul-jadul amat kan? Sementara prinsip hidup gue, selama masih ada pipoh dan oppoh buat kamera henpon.. cukuplah bagiku. #bilangajanggapunya..

Nah, seperti layaknya prinsip manusia sosmed masa kini, Ibuk selalu membawa kamera pocket ini agar tidak melewatkan momen. Tapi ya hanya sekedar supaya sudah mengambil foto sebagai syarat mengabadikan momen. Boro-boro dicetak. Apalagi diupload di sosial media.. Nda ada dalam pikiran layaaw..

Jadilah dokumentasi itu terpatri dengan damai di SD Card kamera Ibuk. Ditambah, anak-anaknya terlalu malas dan gaptek (saya) untuk memindahkan kamera atau mencetak fotonya. Makinlah itu dokumentasi mangkrak nggak jelas..

Suatu hari ketika gue melihat-lihat isi kamera Ibuk…

Ibuk : “Ibuk sholat Ied-nya bareng sama Duta.. Dia kan tonggo sakkelurahan, yang ngasih tau pak Dukuh. Kalau sholat Ied mesti bareng.. Ya Ibuk minta foto aja..”

Gue : “Duta siapa?”

Ibuk : “Duta Sila on Sepen itu lo WIk.. ”

Weiiittss.. misi terlaksana ni Ibuk foto ama artis lagi. Tapi berhubung gue biasa-biasa aja, ~~maksudnya suka iya, tapi nggak ngefans juga~~.. ya gue menanggapi biasa-biasa aja cerita Ibuk.

Sampai ketika gue mudik Idul Adha kemarin.

***

Momen Idul Adha kemarin menjadi salah satu peristiwa yang membahagiakan bagi Ibuk karena kami sekeluarga lengkap bisa berkumpul di rumah. Iya, biasanya jika hari lebaran, pasti ada salah satu anak yang berlebaran di rumah mertua..

Pagi itu, cuaca Yogya cerah dan sejuk. Kita semua sudah bersiap-siap sholat di lapangan. Satu per satu warga mulai berdatangan. Para penjaja sudah menempati lapak jualan masing-masing. Anak-anak sibuk berlarian memilih jajanan yang akan diambil. Pilihan yang sulit antara harus membeli Cilok atau Balon. Peliknya, hidupmu Nak..

Dibandingkan dengan sholat Idul Fitri di Jakarta, lapangan luas ini ini tampak relatif lebih sepi. Mungkin karena bukan Idul Fitri ya, jadi yang mudik tidak sebanyak Lebaran.

Kita berada di barisan depan shaf wanita.. Sambil melafalkan takbir dan mendengar pengumuman dari panita, Ibuk membisikkan sesuatu ke kami. Ia menunjuk seorang pria gondrong dan berbaju gamis abu-abu yang baru saja datang. Pria kurus dengan rambut masih basah itu berjalan terburu-buru dan mengambil posisi paling belakang shaf pria. Ooooh itu too yang namanya Duta Sheila on 7.

Penampakannya mirip mahasiswa Yogya banget ya.

Mungkin karena bajunya. Mengenakan terusan gamis membuatnya terlihat jelas sekali kalau badannya lebih banyak tulang dibanding lemak. Coba gue yang pakai baju itu, masih bagus nggak dikira gundukan semen.

Dan namanya rakyat jelata, jelas saja sepanjang waktu kami sibuk berdiskusi membahas mas Duta yang duduk lurus di hadapan kami.

Kayaknya baru bangun banget ya..
Pasti habis begadang..
Habis mandi langsung ke sini.. rambutnya njendhindhil gitu..
Kok sendirian di tengah2 shaft? Nggak deketan dengan yang lain?
Kurus banget, aku takut nanti patah..
Anak istrinya mana?

Begitulah percakapan kami. Gue anggap isi materi khotbah sudah masuk telinga kanan dan parkir dengan baik di otak gue. Jadi sekarang kami mau menggosip satu-satunya artis yang ada di lapangan ini.

Bukan apa-apa. Di Jakarta ini banyak sekali orang cakep dan jago make up. Saking banyaknya, gue nggak tahu mana yang artis, seleb dunia maya atau warga biasa.

me. ketika melihat penampilan para wanita yg selalu sudah siap untuk difoto

Belum lagi kalau ketemu public figure, jangankan minta foto, ketahuan melihat dan nggosipin artis aja kita jadi malu. Gengsiiii layaww..

Soalnya gue punya pengalaman amsyiong.

Ada salah satu artis muda cantik. Aduh muda menawan mempesona banget deh, pokoknya. Tiap tidak sengaja bersirobok di kantor, gue selalu membatin, ini anak cantik banget siii. Kalem, lembut gimanaa gitu. Pokoknya salah satu artis favorit deh. Sampai ketika gue mempermalukan diri meminta foto bareng.

Dia asyik jalan dengan teman-teman artisnya, gue dengan rombongan keluarga. Ponakan, ingin berfoto bareng. Seperti biasa, gue yang diumpanin. Bukan maju mundur cantik namanya, tapi maju mundur nabrak angkot ini judulnya..

Nah si artis ini nyadar kalau ada emak-emak ngefans yang kucluk-kucluk ingin foto bareng. Lalu orangnya menanggapi sambil males-malesan aja gitu.. ebuset mbaaak.. situ putri malu, kok disentuh dikit langsung letoy?

Jadi kalau sekarang ketemu artis, ya udah biasa aja. Nggak ikutan jadi generasi Lambe Turah. Kalau nggosipin iya, tapi motoin diam-diam mah kagak.

Tapi mungkin Duta tidak seperti si mbak-putri-malu tadi. Atau jangan-jangan bisa jadi lebih parah. Siapa tahu?

***

Selesai sholat, sambil beres-beres gue memberi peringatan ke Ibuk..

Gue : “Ibuk nggak usah minta foto ya.. kan dulu sudah. Malu bu ketahuan tiap sholat Ied ada nenek-nenek yang min.. EH BUK… IBUKK”

Ibuk sudah melesat duluan. Tanpa menghiraukan ucapan gue, Ibuk terus berjalan lurus, selurus hidungnya Lee Je Hoon. Aduuh, emak guee.. Mau nggak mau gue dan kakak-kakak gue ngibrit ngejar Ibuk..

Benar saja, Ibuk adalah nenek-nenek pertama yang berhasil mencegat Duta. Setelah diberi ijin, dengan cengiran lebar Ibuk berdiri di samping Duta..

Rombongan jamaan sholat Ied perlahan membubarkan diri. Kini mereka memperlambat jalan untuk melihat apa yang terjadi. Siapa tahu habis itu bisa ikut foto bareng, tentu saja.

Ibuk sudah nyengir lebar di samping duta.

Gue sudah siap2 mengambil foto Ibuk.

tiba-tiba

Ibuk :“Dewi.. sini kamu aja yang di sini yang foto ama mas Duta.”

Gue : “Haaa? Loh. Kok jadi aku? Udah Ibuk aja…”

Ibuk : “Sudah, kamu yang di sini.”

Ibuk meninggalkan Duta yang masih berdiri bengong. Lalu bergegas menghampiri gue..

Ih, kan gue jadi nggak enak.. Untung mas Duta masih nyengir lebar di posisinya.

Terpaksalah gue yang berbusana sangat tidak siap-foto-bareng-artis harus bertukar posisi dengan Ibuk.

Gue memberikan HP.

Gue : *nyengir lebar*

Duta : *nyengir lebar (2)

Ibuk : *nyengir lebar (3)

Ngapain kita semua saling berbalas cengiran gigi begini sih?

Gue : “Ibu sudah belum? Kok nggak difoto?”

Ibuk tetap mesam mesem.. Membolak-balik HP gue. Terus cekikikan lagi.

Ibuku, ngambil foto nggak, tapi mengakui kalau nggak bisa pakai handphone juga nggak…

Duta : (yunau, ketika sudah nyengir lebar dengan gigi putih cemerlang kemudian dia harus berbicara dibalik cengiran kuda?) “Ya udah selfi aja juga ndak papa loo..”

Gue *nyengir kaku * ” Eh..iya, anu iya mas.. sebentar”

Gue nggak suka selfie. Alasannya karena tiap swafoto, tiba-tiba muka segede dosa gue terpampang di layar handphone. Jadi opsi selfi itu langsung gue tolak setengah matang…

Gue : “Udah ibu ikut foto sini aja…” kemudian memanggil mbak-mbak random yang sedang antri “Mbak-mbak tolong fotoin mbaaa..”

Kakak gue datang, dan Ibuk memanggil Kakak gue untuk ikut foto. Marii, kita foto keluarga bersama Duta.

Pulangnya, gue melihat foto, loh kok ada suamik di dekat kita..

Gue         : “Piih, papi ada di dekat kita tadi yaa? Kok nggak motoin?”

Suamik  : “Iya, aku pura-pura nggak kenal aja.. ”

Wooo asyeeemmm..

***

Demikianlah cerita di balik layar foto Ibuku dan Duta. Setelah kami, Duta masih melayani permintaan foto para fansnya dengan ramah dan sabar. Ah baik sekali dirimu Mas.

Lihatlah senyumnya Ibuku.

Bagaikan ketemu mantan calon mantunya yang tidak pernah jadian ama anaknya, bukan? Alias bahagiaaa sekali hahahahha

Iklan

Diterbitkan oleh

dewi

Illustrator yang aselinya malas nonton drama korea, pengennya masak-cuci piring aja..

14 tanggapan untuk “Ibuku dan Duta Sheila On 7..”

    1. Baim Ada Band vokalisnya bukan? Sedih cuma tau vokalisnya aja. Wkakakakaka, klo gak ngefans2 amat mah gak usah. Klo ibuku kan di mana ada artis nganggur, disitulah dikejar..

      Suka

        1. Eh bener.. Kharismanya beda pak Jokowi itu.. Kayak apa ya, udah di deket beliau aja rasanya bedaa.. Gak kepikiran minta foto.. Abis itu baru nyesel kok gak foto (kata org2 sii)

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s