Menghela Nafas..


Bukan, bukan karena begitu lamanya blog ini menganggur. Kalau itu sudah pasti.

Tahun 2020 ini, hhhh… entahlah, terlalu banyak yang ingin diceritakan, tapi terlalu lama menunda-nunda untuk mencurahkan dalam bentuk tulisan. Hanya sekedar berkonsetrasi untuk membiarkan jari dan pikiran ini mengalir saja, ku(beralasan) tidak punya waktu.

Sampai pada suatu waktu, ketika gue sudah tidak bisa membedakan antara hari libur maupun tidak, saking selama hampir tiga bulan ini gue tidak keluar pagar ~~ OMG, mau gila rasanya~~, gue mendapatkan DM dari beberapa teman baru di Instagram.

Ia adalah satu dari beberapa insan manusia yang selama pandemi Covid19 ini mendapatkan hidayah menjadi fans baru drakor.

Oiya, bicara tentang drakor, iya loh, banyak yang tiba-tiba jadi penggemar drakor yah. Di lingkungan gue ada suamik, yang rasanya list tontonan drakor doi sudah lebih banyak daripada gue, maygaatt Papiihh… Belum lagi sahabat-sahabat yang dulunya antipati, kemudian ipar-ipar gue yang dahulu kurang informasi, akhirnya menikmati drama korea. Dengan drama perdana, tak lain tak bukan adalah Descendant of The Sun. MUEAHAHAHAHA.

Memang semua akan nge-drakor pada waktunya.

Sudah cukup bertahun-tahun gue fangirling (heboh) sendirian, seakan-akan menjadi alien di dunia nyata. Sekarang, ketika gue sudah biasa-biasa saja, barulah pada akhirnya kerabat di sekitar gue melakukan pengakuan dosa.. eh.. pengakuan minat akan drakor.

Kembali ke teman baru yang mengirimi pesan di DM.

Rata-rata pesan yang gue terima adalah bagaimana mereka terjerat demam drakor setelah menamatkan DoTS. Banyak dari mereka yang menjadi fans Song Hye Kyo dan Song Jong Ki. Tapi khusus beliau, dengan antusiasnya, menceritakan ulang apa saja yang telah ia baca di blog gue. Yang aselik, gue saja lupa pernah menuliskan apa.

Lalu, gue buka kembali blog gue sendiri.

Tanpa sadar, gue buka-buka kembali postingan-postingan luaaaamak yang pernah gue tulis. Begadang gue cekikikan sendiri membaca bagaiamana kehebohan gue sebagai fangirl, maupun cerita-cerita jadul tentang betapa receh dan absurdnya kisah hidupku dan keluargaku.

Bukan. Gue sedang tidak berusaha merendah untuk membangsat yaa..

Tapi, membaca cerita lama, seketika gue flash back ke satu dekade belakangan ini, masa di mana gue rajin posting blog satu bulan sekali. Seakan membuka kembali kenangan-kenangan lama yang terjadi dalam kehidupan usia 20-an dan awal 30-tahunanku.

Gue bisa tertawa membaca ceritaku sendiri. Ini apaaan sih yang ada di pikiran gue, kok bisa menulis kalimat-kalimat dan cerita seperti itu?

Padahal gue tahu, buaaaaaaanyaaaaaaaaaaak sekali peristiwa yang terjadi pada saat itu. Tahun-tahun itu rasanya seperti the lowest level of my life.

Jika gue mengingat kembali, rasanya, seharusnya sih lebih banyak cerita sedih yang gue alami.

Seperti ketika gue memutuskan berhenti bekerja kantoran dan menjadi Ibu rumah tangga. Sesuatu yang tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak ambisius dan jiwa kompetitif gue. Bertahun-tahun gue merasa bersalah karena menjadi pribadi yang “tidak berguna”.

Selain tidak memiliki penghasilan sendiri, kemudian finansial problem yang OMG rasanyaaaaaah.. Di tahun-tahun itulah partnership gue dan suamik dalam pernikahan serta menghadapi dunia, diuji.

Kemudian, ada masa gue yang minder untuk ketemu teman lama yang sudah sesuai jalur standar sukses orang Indonesia pada umumnya. Bayangkan, ketemuan dengan kolega-kolega terdahulu, mereka memanggil satu sama lain dengan panggilan “Bu Manager.. Ah, elo kan Bu Manager.” Saat itu, apa yang kurasakan? Menelan ludah dengan pahit sambil memeluk Aidan. Padahal mah, semua orang kan sudah ada di jalurnya sendiri-sendiri. Dan kalau dipikir-pikir sekarang, hidih apaan sik? Cringe abis lo pada..

Belum lagi tentang parenting, rasanya gue selalu menyesal telah menjadi jadi orang tua yang tidak baik ketika mendapati fakta bahwa anak gue memiliki keterlambatan motorik dan sensori. Ditambah konflik dengan Ibuk dan saudara kandung.. haduuh keluargaku gini amat sih. Pada saat itu mungkin situasi yang paling tepat menggambarkan gue adalah senggol langsung mewek.

HHHH…

Tahun-tahun berlalu.

Dan di sini, gue sedang tersenyum melihat kembali kehidupan gue terdahulu, rasanya gue cukup salut tidak ada satupun permasalah hidup gue yang gue curahkan di diary online ini. Bukan karena ingin menutupi. Masih ingat kan akan pepatah biasanya orang yang paling suka menghibur adalah orang yang paling sedih di kehidupan aselinya. Kurang lebih seperti itu.

Apakah gue begitu? Entahlah, gue bukan ahlinya. Hanya saja entah mengapa, gue sendiri terhibur karena masih ada sedikit sisa humor di antara kenyataan pahit yang gue jalani sehari-hari. Rasanya gue cukup bangga akan diri gue sendiri karena bisa bertahan melaluinya sampai saat ini dengan baik-baik saja.

Pada akhirnya, semua memang baik-baik saja kok. Karena pada hakikatnya, semua peristiwa, baik itu sedih maupun menyenangkan semuanya sama, hanya akan berakhir menjadi kenangan. Jadi, tinggal kita yang memilih kenangan seperti apa yang akan kita kenang. Tsaaaahh mamah dewik sudah tuwaak..

Oke, sudah jam 01.15 dini hari, gue sudahi dulu ya ocehan tidak jelas gue malam ini.

Sampai jumpa.

Secepatnya aku akan kembali. Sehat-sehat ya semuaaa..

ps: Kok gue agak siwer dengan tampilan baru wordpress yaa.. ibuk2 gaptek macam eikeh makin gak ngerti sesimpel insert image di postingan blog… huhuhuhu