Ngomongin Suamik #4

Sudah lama nggak nggosipin suamik di sini.. Sepertinya banyak yang ingin diceritakan, tapi karena begitu lamanya hiatus, gue sampai lupa apa yang ingin gue tulis..

Jadi, yaa kira-kira seperti inilah kisah kami sehari-hari. Pokoknya, tinggal beberapa juta tahun cahaya lagi untuk mencapai status #couplegoals dan #relationshipgoal #muntah.

  1. Judul FTV : Ternyata anakku adalah anak suamiku..

Sebagai Ibu dari seorang anak, ~~laki-laki pulak~~, ada beberapa hal yang membuat gue senang sekaligus sebal.

Kalau mamah lain bilang dia paling cantik serumah, kalau gue.. mmmm.. karena nggak cantik-cantik amat, jadi posisi gue di sini paling sering terkucilkan huhuhu..

  • Apapun yang dilakukan oleh bapaknya, pasti sang anak akan menatap dengan pandangan berbinar-binar.
  • Setelah seharian sama anak, begitu papinya sampai rumah, anak gue akan berteriak heboh menyambut kedatangannya. Bagaikan istri yang baru ditinggal berlayar suaminya. Sementara ibuknya, dadah babay.. ndapur maning, mamiiih..
  • Nah, paling sebal kalau sudah susah payah nidurin anak. Aidan baru tertidur kira-kira dua detik, gue sedang senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang akan gue lakukan ketika nak lanang tidur.. Tiba-tiba pintu kamar terbuka.. dan terdengar suara si bapake “ANAAAAK PAAAAPIIII!!!” Si anak sukses terjaga. “PAAAAAPIIIKUUUHH..” Kemudian mereka berpelukan dan point di atas terulang lagi. Gue? Misuh-misuh maning..
  • Hari jumat adalah salah satu hari yang paling berbahagia buat Aidan, Karena pada hari itu, biasanya, suamik bisa kabur sebentar menjemput Aidan sekolah. Sampai suatu hari, suamik lupa memberi informasi ke Aidan kalau dia tidak bisa menjemput. Walhasil, ketika gue yang muncul di pintu kelas, anak gue noaaangis seperti adegan sinetron India. Ituu ya, nangisnya sampai sesenggukan seperti habis dimarahin satu kelurahan. Gurunya bingung, kepala sekolah yang tidak sengaja berpapasan dengan anak gue yang matanya sembab juga bingung. Kenapa menangiiisss? Halahyuung. Semua mata tertuju padamu. Gue sudah mirip emak-emak tega yang marahin anaknya di lingkungan sekolah.. Padahal hanya karena bukan bapaknya yang nongol di pintu sekolah, buneee..
  • Tapi tidak ada yang lebih menyebalkan kalau mereka berdua sudah bersekongkol. Brokoli, tenan. Ceritanya dibanding gue, suamik lebih lancar dalam urusan buang.. gas. Alias kentut. Nah masalahnya setiap dia buang angin, bunyinyaa ituu.. amboiii.. tidak ada bedanya dengan suara tanjidornya Atun. Sudahnya kenceng, sember pulak. Kalau gue sudah cemberut misuh-misuh, suamik dan anak pasti cekakakan sambil ber-high five.. Lee, kuwi bapakmu ngentuut looo.. Kenape kamu bahagia banget, Nak? Tapi begitu giliran gue yang ajak high five.. anak gue melengos. Lalu mereka akan tertawa penuh kemenangan berhasil ngerjain gue. GRRRHH!! Rasanya kuingin mengeluarkan ajian kungfu peremuk kerupuk.
Me.. Tiap kali mereka sudah mulai nyebelin

Itu cerita nyebelinnya suamik.

Tapi rasanya kurang afdol kalau pada akhirnya gue tidak menceritakan kesialan suamik di sini. Akhirnya, gue bisa juga ngetawain ketidakberuntungan suamik mbuaahahahahaaaahmu.. eh salah, maksudnya.. mbuahahahhahahah..


2. Urusan Toilet lagi?

Ha! Emangnya gue aja yang bernasib sial? Akhirnya suamik juga pernah mengalaminya juga. Peristiwa ini terjadi ketika kami sedang mudik akhir tahun ke Yogya beberapa bulan yang lalu.

Oiya. Sebelumnya, gue ingin cerita. Salah satu (dari sedikit) kenikmatan punya anak cowok adalah kalau dia pengen ke toilet, mustahil dia ke toilet wanita. Apalagi dengan habitnya Aidan yang kalau kevellet vuv bisa di mana saja dan kapan saja, membuat gue jadi bisa dadaaaah babay dan menyerahkan urusan per-toilet-an ke suamik. Yass!

Sedang menikmati hutan pinus.

“Papi, perut Aidan sakiiittt… Mau Be’ol..”

Roadtrip di salah satu jalan antar berantah Imogiri..

“Aidan mau be’oooll..”

Sedang makan di warung bakso alun-alun bantul..

“Perut Aidan sakit, kebanyakan makan. Mau be’00ll..”

Gue curiga jangan-jangan anak gue ada saudara jauhnya Arman Maulana. Ituh, Aidan Maubeol..

*siiiinggg…. *

Kembali ke laptop..

Nah, hari itu suamik dan anak sedang mau buang air kecil ke toilet di salah satu mall Yogyakarta. Suasana masih sepi. Begitu masuk toilet, suamik langsung menuju bilik terjauh. Suamik memilih tidak buang air kecil di urinoir pria melainkan di dalam bilik toilet. Ini hanya masalah preferensi, katanya..

Setelah Aidan selesai, gantian si bapake yang masuk ke dalam bilik. Aidan menunggu di luar..

Sedang menikmati kemewahan dunia di dalam ruangan kecil itu, tiba-tiba terdengar gedoran dan lengkingan anak gue..

Aidan       : “Papiii.. Papiii ini tempat cewek Pi..”
Suamik    : “HAHH? Tempat cewek gimana?”
Aidan       : ” Ini toilet Girls, papiiii..”
Suamik    : “Nggak ah..” *tapi perasaan nggak enak*
*** hening ***
kemudian terdengar langkah kaki..
tiba-tiba ada kepala anak gue nyaris nongol dari bawah pintu

Aidan
        : “PAPII.. INI TOILET CEWEK PI.. ITU ADA TANTE-TANTE!!”
*suamik njondhil*
Suamik   : ” AIDAN ITU JOROK IIIH!!”

Entahlah itu, suami sudah kelar buang hajat atau belum, pokoknya suamik langsung membuka bilik dan kabur secepat kilat.

Gue yang diceritakan hanya bisa bersimpati dengan..

 

3. Jadi, kamu ada di mana?

Tiap weekend biasanya suamik ada main sepak bola dengan teman-teman alumni SMU-nya. Lazimnya, tiap beberapa bulan sekali pasti ada pertandingan antar alumni SMU. Nah kebetulan bulan Maret lalu ada perebutan piala.. apaaa gitu.. gue lupa.. pokoknya turnamen sepak bola alumni SMU satu DKI gitu deh.

Nah, kalau suamik sudah ada jadwal tanding bola, gue dan Aidan akan mati gaya. Seringnya sih kami ikut nemenin, tapi kan kadang bosan juga ya. Kalau sudah begitu, yaaah.. ngendon di mall lagi, mall lagi.

Kebetulan hari itu suamik ada tanding di Istora Senayan. Posisi istora senayan ini berdekatan dengan beberapa mall.. Beberapa di antaranya adalah Plaza Senayan, Senayan City, FX. Pacific Place dan Plaza Semanggi.

Rencananya sih kita menunggu di Plazza Semanggi karena mau menonton film di Cinemaxx. Tapi gue urungkan niat karena jam tayang yang tidak sesuai. Kebetulan, ketika kami melintasi kawasan Pacific Place dan sekitarnya, gue melihat banyak keluarga muda yang main CFD di area Pacific Place. Lalu gue ingat, Aidan ingin main skateboard. Wah, boleh juga tuh.. Jadi, Gramedia Plaza Semanggilah tempat tujuan kita..

Setelah membeli skateboard, Aidan gue ajak menyeberang menuju kawasan SCBD. Begitulah, gue dan Aidan berakhir nongkrong di seberang Pacific Place sambil melihat pemandangan warga masyarakat yang sedang berolah raga. Sepanjang sore itu gue rajin mengirim pesan singkat ke whatssapp suami.

 Pi, Aidan beli skateboard ya..

Pi, udah nggak di Plaza semanggi ya pi. Kita ke Pacific Place.. Mungkin mau nonton di sana.

Ini lagi di depan PP ya pi, Aidan main skateboard..

*insert foto kelakuan si anak lanang*

Nggak jadi nonton, pi..

Laper… Kita makan di PP ya..

Dasar wanita (gue maksudnya). Apapun yang terjadi, meski WhatsApp nggak dibaca, laporan kegiatan jalan terus.. Mana pulak lagi main sepak bola sempat baca whatssap dan membalasnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Walhasil. tu laporan macam kata sambutan pak lurah.. panjang berentetan yang tentu saja tidak dibaca apalagi dibalas suamik.

Sekitar satu jam kemudian. Gue dan Aidan sudah kenyang. Kami masih bengong gak bego-bego amat sampai akhirnya gue ditelpon suamik.

AAAKHIRNYA YA JUMINTEEN..

Suamik  : “Mi, Aku dah selesai.. Kamu dijemput di lobi mana?”
Gue          : *harus berpikir cepat lobi mana yang paling dekat jaraknya dengan restoran kami.” “Lobi Barat!!”

Gue dan Aidan bergegas menuju ke lobi barat. Gue ingat sekali di mana kami tadi masuk, melewati eskalator sisi yang mana, memandang penuh takjub dinding yang berisikan ilustrasi kece.

Telpon berbunyi..

Suamik   : “Di mana, dhek?”
Gue           “Ini lagi turun eskalator bentar lagi sampai papi di mana?”
suamik    : “Aku masuk lobi barat ya itu yang ada jembatan penyeberangan yang ada Meikartanya..”
Gue           : *Hha ? Meikarta? Mei sopo?? Di mana itu, Apa sekitar Ritz Carlton?* “Oh, Iya… iya pi..” *Iya dulu, mikirnya belakangan..*

Tibalah kami di luar lobi. Di situlah tertera tulisan

WEST LOBBY

Penampakan lobi mall kali itu ramai sekali. Banyak sekali pengunjung yang berpakaian formal seperti habis pulang kondangan. Tapi ada yang berbeda. Gelap sekali di sini. Mati lampu apa ya? Oh lagi ada earth Hour. Ealaaah pantes.

Satpam sibuk mengatur jalannya kendaraan. Gue sedang melirik-lirik di kejauhan, memicingkan pandangan siapa tahu gue melihat penampakan mobil sejuta umat berwarna putih yang dikendarai suamiku. Aidan menunggu bosan sambil duduk gelosoran di skateboard. Suamik lama amat sih?

Telepon kembali berdering

Suamik  : “Kamu di mana aku dah di lobi..”
Gue           : “Aku juga udah di lobi pi..”
Suamik   : “Lobi mana? Lobi barat kan?”
Gue           : “Iya aku ada di lobi barat. Ini aku berdiri tepat di bawah tulisannya. WEST LOBBY”
Suamik   : *terdengar berbincang dengan seseorang* “Pak Lobi barat di mana? “. *kembali ke gue* “Dhek, ini aku udah di lobi barat. Ini apa satpamnya yang eror ya? Masak nggak ketemu gini sih?”
Gue          : “La. aku di lobi barat, Papi di mana? Mana mobilnya?”
Suamik  : ” Lobi barat, Miih. Cooba kamu  kasih ke pak satpam..”

Gue memberikan handphoneku ke pak satpam..

Satpam  : “Iya Pak. Iya, di sini lobby barat. Bapak dari arah mana.. blablabla.. Iya di seberang Bursa Efek Jakarta.. Blablabla.. Iya yang ke arah SCBD.”

Pak Satpam memberikan telpon ke gue.

Suamik      : “Jadi kamu ini ada di mana sih dhek?”
Gue             : “Pacifiiic Plaaace..”
Suamik      : “Kok nggak ngomong sii? Aku di Plasa Semanggiiii…”

*telpon langsung dimatiin*

Waduuuh.. Miss komunikasi lagi.. mbok sekali-sekali Miss Universe gitu looh. Gue sudah siap-siap kalau nanti akan.. 

Gue ciut. udah macam tikus kecebur got. meskipun lebih tepatnya tikusnya benjol karena got jaman sekarang jarang yang ada air selokannya.. Tapi gue ingat. Kayaknya gue sudah ngabarin deh.. Langsung scrolling percakapan kami. Benar saja, gue sudah jelas memberikan kronologis tiap detiknya beserta foto-foto kami sedang main skateboard di depan Pacific Place. Itu gedung gede magrong-magrong kan bentuknya mall PP.. Langsung gue sertakan bukti-bukti yang ada. Haaa!

Suamik tiba. Gue masuk mobil. Dieeeeeemm… hening bagaikan kelas lagi ujian tapi anak-anaknya nggak ada yang bisa mengerjakan soal ujiannya…

…beberapa saat kemudian..

BAHRAHJSGAJAHJKHKAJGAGJAJGSAJAKGA..

GUE NGGAK TAHAN AKHIRNYA NGAKAK JUGA… INI KENAPA BODOOOR BANGET SIIII??

Suamik cuma bisa manyun sembari…

.. ” Manalah aku ada baca whatssap.. Cuma lihat foto-fotonya. Ini sudah ngomel-ngomel. Aku yang salah lagi..”

Kembali, gue hanya bisa bersimpati dengan…

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

dewi

Illustrator yang aselinya malas nonton drama korea, pengennya masak-cuci piring aja..

8 tanggapan untuk “Ngomongin Suamik #4”

  1. hehehe
    anak laki” saya yang masih 2 tahun kalo saya pulang kerja
    juga heboh manggil”
    “ayahhhh ayahhh”

    kalo anak perempuan saya yang 4 tahun?
    beuhh boro”
    asik aja nglendot sama ibuknya

    Suka

    1. begitullaaah.. kita jadi sehat kalau sudah bisa mentertawakan diri sendiri, apalagi mentertawakan kesialan (orang lain) hiahahhaha..

      itu ponakannya lucuu banget sii hahahhaha

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s