Movie Review : The Battleship Island

Dirgahayu Kemerdekaan yang ke-72 Negara Indonesiaakuu!

Hai semua para kisanak penggemar perfilman Korea, kembali hadir mamah Dewik dengan review abal-abalnya.

Ceritanya, gue memiliki sahabat yang bekerja di majalah film, sebut saja namanya Bunga.. Karena namanya memang Bunga. Naaaah, dari Bungalah gue dan Imbi bisa sering ‘ikutan’ acara premiere atau hanya sekedar nobar film-film di CGV. Pokoknya persahabatan kami ini mirip dengan hashtagnya Dian Sastro. Hanya bedanya, kalau Disas #pertemanansehat dan #jangankasihkendor, sementara kami #pertemanankere #jangankasihkolor..

Terus kalau kata Bungaa..

Hari itu, 9 Agustus 2017, gue hadir di acara premiere salah satu film dengan budget terbesar terbesar yang pernah dibuat insan perfilman Korea Selatan. Film yang sangat gue nantikan penayangannya sejak setahun yang lalu… The Battleship Island

Seperti biasa, jika sedang ada premiere, CGV Grand Indonesia pasti ruamekk.. Kata Bunga, hari itu hanya ada acara premiere film ini. Acaranya sendiri akan diadakan di dua studio. Dan kami, para media partner berkesempatan melihat The Battleship Island di studio terbaru CGV, ScreenX CGV.

Gue review satu per satu ya..

Lanjutkan membaca “Movie Review : The Battleship Island”

Iklan

Hari Ketika Adekku Diculik..

Peristiwa itu terjadi di tahun 1999 ketika gue masih jadi murid SMU.. Sementara adek gue, Kunto Aji, ~~bukan Kunto Aji yang penyanyi yaa..~~ masih duduk di bangku kelas 6 SD..

Saat itu keluarga kami tinggal berpencar-pencar. Domisili orang tua dan Kakak nomor satu di Jakarta, Kakak nomor dua kuliah di Yogyakarta dan tinggalah gue dan adek gue yang masih bersekolah ini di Solo.

Dulu, gue tinggal di Solo Baru yang jaraknya kira-kira 7-10 km dari pusat kota. Dengan jarak sejauh itu, perumahan Solo Baru dan sekitarnya benar-benar terletak di luar kota. Apalagi setelah kerusuhan Solo 98, kediaman kami yang tadinya ramai dan berkembang, kini berubah menjadi sepi, panas dan gersang. Lebih cocok jadi tempat Jin buang selingkuhan..

Lanjutkan membaca “Hari Ketika Adekku Diculik..”

Menjadi korban kejahatan..

Bicara soal kejadian kriminal, gue ingin cerita sedikit tentang beberapa peristiwa kejahatan yang pernah kami alami. Kejahatan yang bukan hanya sekedar baju atau mukena dicolong mbak-mbak asisten rumah tangga ya, itu mah.. relain saja. Tapi peristiwa kriminal yang, ~~untungnya meski tidak semenyeramkan sekarang~~, tetap saja bikin bergidik kalau mengingatnya..

Beberapa di antaranya.. Lanjutkan membaca “Menjadi korban kejahatan..”

Mengenang Seminggu Tamatnya Drama Chicago Typewriter..

Apaan dah, judulnya sudah mirip orbituari..

Ceritanya, drama ini sudah tamat seminggu yang lalu. Walaupun definisi seminggu di dunia drama korea ekuivalen dengan beberapa-hari-terserah-anda di dunia nyata..

Nah, daripada nggak ada postingan, maka gue akan merampungkan draft final review drama ini sebagai saluran emosi gue. Kan kasihan selama ini Joice melulu yang gue bombardir.. Ya, nggak bu Joice Chang Wook?

Jadi, bagaimana final reviewnya, mamah dewik? Lanjutkan membaca “Mengenang Seminggu Tamatnya Drama Chicago Typewriter..”

Terlalu suka dengan Chicago Typewriter..

Warning, sepanjang tulisan akan penuh halusinasi parah dari si penulis. Mohon bersabar, ini ujian kalau membacanya jadi pengen muntah. Maklum, ya, kata Joice.. namanya juga hormon emak-emak..

***

Hai semua para kisanak penggemar drama korea, kembali hadir di sini, mamah dewik, beserta review drama korea abal-abalnya..

Menurut gue, tidak ada yang namanya drama yang jelek atau bagus. Semua itu kembali ke Yang Maha Kuasa.. eh maksud gue, balik ke yang namanya selera.. (lalu mbak selera tunjuk tangan, #krikkrikkrik).

Pokoknya, kalau ceritanya bagus, tapi kita sebagai penonton nggak suka, ya, secara subjektif drama itu jelek. Dan begitu pula sebaliknya.

Buat gue pribadi sih, bagus tidaknya suatu drama bisa dilihat dari awal-awal episode yang ditayangkan. Pertimbangan gue sih cetek, selama gue suka cerita dan akting para pemainnya lalu OST-nya mendukung.. yawiiss, gue akan setia mengikutinya sampai akhir..

Drama yang bagus? Banyak.

Tapi jika gue mau capek-capek mereview drama itu menjadi satu postingan blog, berarti drama yang gue tonton itu ~~menurut gue~~ memang baguuuusss banget.

Nah, drama yang saat ini sedang menghantui gue adalah.. Lanjutkan membaca “Terlalu suka dengan Chicago Typewriter..”

Enter title here.. #2

Ternyata hampir sebulan lamanya tidak mengutak-atik tulisan di blog lumayan bikin kagok menulis juga ya..

Apalagi ditambah kenyataan yang terjadi pada hari-hari belakangan ini.

Ada masalah apa? Errr.. anu’ itu, angka timbangan berat badan gue sudah bukan bergeser ke kanan lagi.. Tapi ini sudah ngglundhung.. ngacir jauh ke kubu sebelah kanan sana. Grmbl.. grmbl..

Enihweii.. ya sudah, mari bikin postingan seperti dulu.  Seperti biasa, kalau nggak ada ide maka yang keluar adalah percakapan random antara tiga orang yang.. yaaah.. apa yah, dia lagi, dia lagi.. Siapa lagi kalau bukan Ibuk, suamik, dan anak..

  • Semua gara-gara solmed..

Sebagai generasi baby boomers, Ibuk acapkali berkomentar tentang perilaku para pengguna teknologi, terutama gadget, yang tentu saja belum ada pada waktu Ibuk masih seusia gue..

.. Ibuk, kalau lihat gue main handphone sembunyi-sembunyi..

Ibuk     : ” Kalau jaman Ibuk muda dulu kayak Ibuk-Ibuk sekarang, pasti nggak keburu pegang kerjaan apa-apa..”

Gue      : ” Ah.. masak sih Bu? Nggak juga lah..”

Ibuk     : ” Beneran. Untung jaman dulu, Ibuk nggak kenal yang namanya solmed.”

Gue       : ” Solmed? Ustad? Ustad Solmed?”

Ibuk      : ” Ituu fisbuk.. apa itu? Fisbuk? Jadi semua pada sibuuuk lihat hp terus.. ”

Gue       : ” Ealaah sosmed.. kalau solmed, itu Ustad.”

Lanjutkan membaca “Enter title here.. #2”

Day 14. If you were only allowed to watch one movie for the rest of your life, what movie would it be and why?

Sebagai penggemar drama dan film Korea bangkotan, jika disuruh memilih satu film untuk ditonton seumur hidup, maka gue akan memilih..

.. paling film Korea lagi..

Salah.

.. gue memilih..

film India. 

film India?

Iyaap.. dan film itu adalah..
Lanjutkan membaca “Day 14. If you were only allowed to watch one movie for the rest of your life, what movie would it be and why?”

Day 10. What’s your most embarrassing moment.

Sepertinya hampir semua cerita memalukan sudah pernah gue tulis di blog ini. Memangnya masih ada yang lebih parah lagi? Ada. Gue nyaris lupa karena ingatan tentang peristiwa ini sudah terkubur di lipatan lemak yang paling dalam..

Yasudahlah yaa, sudah kepalang tanggung..

Jadi, mari kita kembali ke 20 tahun yang lalu, masa-masa gue duduk di bangku kelas 1 SMU. HWAAAAA… tuwaak banget! *tenang, sebelum para pembaca generasi milenial menjerit, gue sudah jejeritan duluan*.

Nah peristiwa itu terjadi kira-kira sekitar 3 bulan ketika gue baru jadi anak SMU.

*** Lanjutkan membaca “Day 10. What’s your most embarrassing moment.”

Pingsan.

Mari kembali ke masa sekolah.

a2a0wd7

Waktu SMP-SMU, gue selalu kagum dengan temen-teman yang bisa pingsan waktu upacara. Mereka heroik sekali ya, semacam simbol perjuangan penyintas upacara bendera gituuh..

Mungkin ini akibat terlalu banyak membaca novel. Jadi kalau si tokoh utama cewek pingsan, tiba-tiba si cowok akan menyeruak di antara kerumunan dan menolong si cewek. Kemudian mereka melangkah pasti menuju cahaya matahari sembari diiringi tatapan takjub dari para figuran cerita.

Romantisss yaaaak..

Rasanya pingsan itu gimana sih? Gue berandai-andai, kalau gue pingsan, nanti gue akan ditolong kakak kelas yang gue suka, dan ketika gue dibopong ke ruang UKS  kami pun saling bertatapan…#plaaak.

MIIIMPIIIII, JENG SRIII…

Sampai berpuluh-puluh tahun kemudian, nggak pernah ada tuh kejadian seperti itu..

Hingga akhirnya gue menjadi Ibu. Lanjutkan membaca “Pingsan.”

Song Hye Kyo Fan Meeting. ~Part. 5 (End)

imageproxy-phpimageproxy-php-2

~~ Penggalan dari part yang kemarin ya. Karena, MAAAK, PANJANG BANGET AJA GITUH!!~~

Ini benar-benar final part. Jika teman-teman ingin membaca postingan sebelumnya, bisa dilihat di part 1, part 2, part 3. part 4. Lanjutkan membaca “Song Hye Kyo Fan Meeting. ~Part. 5 (End)”

Song Hye Kyo Fan Meeting. ~ Part. 4

Ketika acara berlangsung, gue diberitahu mba Nissa untuk melihat wanita-wanita yang duduk di depan kami. Gue melihat, mereka sesekali menyaksikan acara menggunakan teropong. Kami bergumam.. “Ih, kok nggak kepikiran sii?”.. Terang saja, aku bukan generasi anak nongkrong fan meeting.. saya generasinya anak nongkrong kangsayur. Jadi, jangankan terpikir membawa teropong, paspor nggak ketinggalan saja, sudah bagus..

Akhirnya Mba Nisa memberanikan diri untuk meminjam teropong milik wanita Korea tersebut. Mba Nissa pun menawarkan gue untuk melihat.. Ternyata melihat melaui teropong, hasilnya bisa sangat jelas ya. Aku baru tau..

Kita bisa fokus pada apa yang ingin kita lihat. Kalau di layar, kan hanya mengandalkan mas-mas kameramen yang mengarahkan acara.. kalau misalnya kita ingin fokus dengan tahi lalatnya mba MC, misalnya, tapi si kameramen ingin memusatkan perhatian pada botol-botol minuman yang ada di meja, ya kita bisa apa, hanya bisa pasrah bukan..

Oke. Kembali ke cerita selanjutnya..

Lanjutkan membaca “Song Hye Kyo Fan Meeting. ~ Part. 4”

Song Hye Kyo Fan Meeting. ~Part. 3

Setting panggung acara ini sangat sederhana, daripada acara jumpa fans, gue merasa lebih mirip sedang menghadiri seminar motivasi. Duh, jangan-jangan Song Hye Kyo adalah Mario Teguh yang menyamar.. *jangan dibayangkan, pokoknya jangan*

Bagaimana tidak, di panggung hanya ada satu set sofa putih dan empat banner tinggi dengan tampilan wajah sang artis utama. 

Oh, bagi teman-teman yang mengharapkan gue bisa menampilan foto atau video selama acara, sekali lagi, gue mohon maaf kalau teman-teman pembaca harus kecewa.

Gue menghargai Song Hye Kyo sebagaimana ia yang sudah mempercayai kita, para fansnya. Jadi bila dibandingkan dengan bisa hadir di event yang mungkin hanya terjadi once in a life time, memenuhi satu-satunya permintaannya untuk tidak mengambil foto, terasa sangat mudah, bukan?

img20161115100809-01.jpeg

Tapi ini kembali ke pribadi masing-masing ya. Gue tidak menyalahkan para fans internasional yang ‘broke the rules’. Mereka pasti juga ingin berbagi kebahagiaan.. Toh kalau gue tidak ikut, pasti gue juga penasaran dengan apa yang terjadi dan berharap, siapapun itu, bisa membocorkannya di sosial media.

Tapi, yang gue pikirkan, nanti, dampaknya seperti apa?

Bagaimana jika ia kecewa? Bagaimana jika ini adalah fan meetingnya yang pertama dan terakhir? Kalaupun nantinya akan ada, apa mungkin dia bisa sesantai hari itu?

Itu sebabnya, gue memilih untuk melaporkannya sesuai dengan apa yang gue lihat dan rasakan.. Walaupun tidak ada foto-foto, sebisa mungkin, gue akan jelaskan kronologisnya secara rinci..

Semoga teman-teman mengerti ya.. Lanjutkan membaca “Song Hye Kyo Fan Meeting. ~Part. 3”

Song Hye Kyo Fan Meeting. ~Part. 2

Satu hal yang pasti. Sejak awal pendaftaran ada beberapa point penting yang diminta panitia…

  1. No photography selama acara.
  2. Diharap tidak membawa banner pribadi.
  3. Diharap tidak membawa hadiah secara personal. Karena hadiah yang diberikan, secara sopan, akan ditolak panitia.

Pasal ‘no photography’ ini, beruuuulaaaang kali disampaikan. Kebetulan gue juga nggak punya kamera, jadi nggak boleh foto, yang nggak masyalah.

Oiya, dari pengumuman, untuk penukaran tiket di venue, nantinya kami hanya diminta membawa passpor.

Iya, cuma begitu saja.

Sempat terbersit keraguan di benakku.. “Jangan-jangan ini bohong..”

Oleh karenanya, hanya beberapa orang saja yang tahu berita ini. Iya kalau beneran, kalau ternyata zonk? Kan amsyiong..

Dan rata-rata reaksi yang kudapatkan…

Adekku   : ” Awas, nanti ditipu mbak, sampai sana, kamu malah dimintain duit..”

Mbakku  : ” MASAAAK SIIIH? NGGAK MUNGKIN.. AH YANG BENER?!”

Ibuk         : ” Ketemu artis siapa? Huai Ko? Sopo kui jenenge? Hong Kio. Hong Kio? ”

-_____-

Aduuuh, jangankan mereka, gue sendiri saja ragu.. Hari gini gituloh. Apalagi yang berangkat dari Indonesia, setahu gue, hanya tiga orang. Gue, Ibu Hani Surlianto, dan Mbak Annisa, seorang dosen dari Surabaya. Nanti kalau sampai sana kita diapa-apain, bagaimana?

Tapi ya sudahlah, kalaupun hoax, nggak ada ruginya juga, hitung-hitung gue ‘me-time’ sebentar ke Seoul. #preeett.  Akhirnya dengan ditemani adek ipar, gue dan mba Annisa berangkat ke Korea. Lanjutkan membaca “Song Hye Kyo Fan Meeting. ~Part. 2”

Song Hye Kyo Fan Meeting. ~Part.1

Brace yourself. 

Gue akan menuliskan beberapa tulisan panjang tentang perjalanan gue menghadiri acara fan meeting Song Hye Kyo…

Yes, you read me right.

Gue. Datang. Di. Acara. Fan. Meeting. Song Hye Kyo..

raw

Ah elaaah, artis Korea lagi. Well, gue tidak minta persetujuan siapa-siapa sih tentang siapa yang harus disukai dan siapa yang tidak. Selama kita tidak meninggalkan kewajiban dan tidak merugikan orang lain, kenapa nggak?

Dan kebetulan idola gue itu adalah seorang.. Song Hye Kyo.

song-hye-kyo-30

Lanjutkan membaca “Song Hye Kyo Fan Meeting. ~Part.1”

Sudah tau cengeng..

… eh masih nonton drama korea.

Yah, doakan gue tobat dan tertarik nonton drama Indonesia yaa.. *lalu lihat sinetron* *lalu ikut sakit jiwa*

Yasudahlah ya.. mending cerita yang ringan-ringan saja, yang berat, cukup badan gue aja..

***

Jadi begini ceritanya..

Gue suka banget bercanda, nggak usah disuruh pun, pasti gue akan mentertawakan diri sendiri. Tapi di balik itu, sesungguhnya aku ini mudah sekali mengeluarkan air mata. Bahasa ilmiahnya sensitif, bahasa kalbunya cengeng dan bahasa jawanya gembeeng.

Lagi sedih.. aku nangis *yaiyalah*

Lagi marah dan keseeeel.. eh nangis juga

Nonton film mengharukan, gue terisak-isak..

Lagi lihat anak tidur.. aku mbrebes mili

Lihat seseorang yang bersedih atau sakit.. gue juga ikut tersedu-sedu..

Lagi bercanda, terus digodain.. “Nangis ya Dew, nangis ya..”.. Awalnya nggak nangis, eee lah kok terus keluar air matanya..

Mending kalau wajah gue bisa berubah menjadi nangis-cantik seperti mbak-mbak di bawah ini..

tumblr_mxkuucyqsi1rcih7jo1_400

song-hye-kyo-crying

Yang ada, pada kenyataannya, muka gue berakhir seperti ini… Lanjutkan membaca “Sudah tau cengeng..”

One of The Best Drama Korea : Signal (2016).

Beberapa minggu terakhir ini bisa dibilang menjadi salah satu bulan tersibuk gue. Padahal kayaknya begini-begini saja, tapi rasanya kok banyaaaak banget yang harus dikerjakan.. Kayaknya waktu cepat sekali berlalu ya, boro-boro bisa duduk tenang main blog..

Terus sekarang kagok, jadi lupa lagi caranya nulis..

Jadi untuk gampangnya, gue mau review drama korea ajah..

Drama Korea lagi?

Hihi, maaf ya.. ketahuan banget kalau lagi kehabisan ide. Habisnya drama ini memang bagus banget. Pun kalau gue nggak suka, pakai banget, gue nggak akan capek-capek menuliskannya di sini..

***

Nah, jika teman-teman adalah tipe penonton drama yang :

  1. Suka cerita dan akting yang bagus..
  2. Nggak suka drama korea yang nangis nggerung-nggerung,
  3. Bosan dengan cerita komedi romantis ataupun sudah males dengan kisah Cinderella yang plot ceritanya kebanyakan seperti  ini..
  4. Suka cerita misteri atau thriler..
  5. Suka serial kriminal seperti CSI atau Criminal Minds..
  6. Suka cerita yang diangkat atau terinspirasi dari kisah nyata
  7. Suka cerita dengan plot twist yang tidak bisa ditebak..
  8. Tapi teteepp suka cowok yang cakebbh..

Maka, mari gue kenalkan drama favorit akuh..

SIGNAL. Lanjutkan membaca “One of The Best Drama Korea : Signal (2016).”

Apa yang kau cari, kisanak? #Part.2

Kembali lagi dengan tema postingan-nggak-jelas-serta-tidak-memberi-insipirasi-tapi-tetep-ditulis-juga..

Setelah bikin tulisan yang kemarin, gue masih suka baca-baca pencarian para netizen yang nyasar di blog ini. Dan tepok tangan duluuu.. akhirnya sudah gak banyak cari kata-kata berbau bokep.. Yiiiihaaaaawww…

Nah, selama tiga bulan terakhir ini, sebagian besar mereka mencari…

APA ARTI KRENGKI..

Hasil gambar
cari apa? Krengki?

gek yo opo, koyo ngene wae kok yo digoogling… Padahal..
confused ryan gosling celebrities

Nah, selain si kata krengki, keyword absurd beserta analisanya yang nyasar sampai di sini adalah… Lanjutkan membaca “Apa yang kau cari, kisanak? #Part.2”

Itu baju apa, Ma?

Sebelumnya, gue sampaikan sekali lagi ya.. gue menulis cerita ini bukan berniat untuk menulis stensilan, kisah mesum, atau fanfiction ya. Gue menganggap teman-teman yang membaca blog ini sudah sama-sama dewasa, jadi tidak perlu menggunakan atribut tanda bintang atau sensor seperti acara-acara TV lokal kita..

Kalau pikiran kita nggak ngeres, mau ada trenggiling nungging di depan kita sekalipun, pasti kita tidak akan terusik..

Ada amin, saudara-saudara?

***

Ceritanya gue habis cekikikan baca postingan mbak Laila yang ini.. Nah, gue jadi ingat, ternyata gue punya pengalaman yang sama. Bedanya, kali ini dengan Mama mertua..

Mama mertua, adalah sesosok wanita Lampung yang sudah cukup sepuh. Usianya tidak lama lagi akan menyentuh 70 tahun, tapi meskipun usianya yang sudah terbilang senior, Mama masih aktif sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Jika dibandingkan dengan Ibuk, tentu saja, dua wanita ini memiliki karakter yang berbeda. Walaupun Mama merupakan sosok yang moderat dan sudah paham akan kelemotan dan ke-onengan gue, tetap saja, kadang gue masih sungkan kalau mau bebas becanda.. Yakalik gue akan ngetawain semua kalimat Mama, kek mana pula itu caranya?

Tapi kali ini, bolehlah sekali-sekali cerita tentang beliau yah..

Alkisah, beberapa hari yang lalu, setelah selesai sholat Ied, gue dan keluarga suamik berencana untuk berziarah ke makam alm. Papa. Di dalam mobil, gue duduk mendampingi suamik yang sedang menyetir mobil, dan di belakang kami, duduk Mama mertua dan Olsa, adik sepupu suamik..

Mama         : ” Aduh, baju Mama ini ada penisnya”
Gue              : ” HAAAAAA? Bajunya ada apa Ma?”.

Kami bertiga yang mendengarkan langsung memasang wajah pongo..
Gue bertatap-tatapan dengan suami, suamik pun sepertinya tidak yakin dengan pendengarannya sendiri..
Gue menengok ke belakang..
Sepupu sedang mesam-mesem..
Mama, masih sibuk melihat-lihat busananya..

Mama          : ” Ini, baju mama ada penisnya.. Tadi kan waktu telpon Ndanmu, ketumpahan kuah ketupat, jadi nggak bisa hilang..”

Bentar dulu, gue bingung deh..

Kalau misal Ibuku yang bicara, pasti gue akan langsung ngakak nyembur, karena gue tau, Ibuku sering mengucapkan kosakata yang hanya beliau dan Tuhan yang tahu apa maksudnya..

Berbeda dengan Mama, ini gue mau ngakak tapi kok nggak yakin, wong Mama bicara dengan serius.. Gue melihat suami, suamik pun balas menatapku dengan padangan sama-sama heran.. Sementara sepupu, sambil melirik Mama, dia juga mulai cekikikan..

Gue             : ” Bajunya ada apa ma? Pines? Atau Pemes, kali’? “..

Hasil gambar untuk paku pines
ini pines

Gue pikir, pasti yang dimaksud Mama ada sesuatu yang sengklirip atau tajam-tajam di bajunya.. Mungkin yang dimaksud Mama itu paku payung alias pines. Kalau bukan pines, mungkin yang disebut Mama adalah silet jaman dulu, si pemes ini..

Mama         : ” Penis.. Baju mama nih ada noda penisnya..”
Gue              : *nah loh* ” Papiih? Penis apaan sik? Itu bahasa Lampung apa Sunda?”
Suamik      : ” Apa yah? Nggak tau”
Gue              : ” Mama, penis apa Ma?
Mama         : ” Iniii baju putih Mama kena noda.. Biar hilang, nanti harus dikucek kasih penis.. Peniiisss, sabun cuci bajuu…”
Gue              : ” YA ALLAAAH, MAMAAA.. VANIIIISSSHH TOO?”

ngakak

BAHUAHAHAHHAHAHAA..

Pecahlah ketawa gue dan sepupu gue yang sudah mau mati nahan ketawa di belakang sana.. Suamik, sepertinya dia nggak ngerti kalau ada sabun merknya Vanish…

Hasil gambar untuk vanish

Sabtu Bersama Gong Yoo..

Jika ada satu film yang saat ini sangat gue rekomendasikan untuk ditonton, maka itu adalah :

Train To Busan..

ClbhhPdVEAA-e70.jpg

Sutradara    : Yeon Sang-ho
Penulis        : Park Joo-suk
Pemeran      : Gong Yoo, Kim Su-an, Jung Yu-mi, Ma Dong-seok, Choi Woo-shik
Ahn So-hee
Durasi          : 118 menit
Negara         : Korea Selatan
Sinopsis      : 

Sok-woo and his daughter Soo-ahn are boarding the KTX, a fast train that shall bring them from Seoul to Busan. But during their journey, the train is overrun by zombies which kill several of the train staff and other passengers.While the KTX is shooting towards Busan, the passengers have to fight for their naked lives against the zombies . Lanjutkan membaca “Sabtu Bersama Gong Yoo..”

Apa Kabarmu, Hanson?

Bicara tentang idola masa remaja, kali ini gue ingin mengenalkan satu dari sedikiiiiiiiiiit sekali pujaan gue di tahun 90-an..

Kalau ada yang menebak New Kids on The Block, Bon Jovi, atau Backstreet Boys dan para boybandnya.. Jawabannya tidak sepenuhnya benar. Iya, NKOTB adalah idola kakak-kakakku, jadi gue pikir sebaiknya gue harus suka juga, biar naik kasta ikut pergaulan mereka gitu~~padahal tetep gak diajak juga. Hih~~.
Dengan boyband? Yah akuilah, hanya melodi lagu-lagu mereka yang sanggup menerima suara gue apa adanya..

Tapi kadar ngefans gue baru sampai tahap suka dan hapal lagu-lagunya saja, belum naik level jadi poster atau pin up yang bertengger manis di dinding kamar. Nah, diantara semua penyanyi, aktor, aktris, model, baik lokal maupun internezyenel yang gue dapuk mendapatkan keistimewaan itu adalah…

… jeng jeng jeng… *padahal bukan kejutan juga, wong sudah ada di judul*

HANSON

Memang sih namanya rada-rada mirip sama Lawson, atau Mirip ora Son, maka wajar kalau mungkin ada dedek-dedek milenials yang belum pernah mendengar nama Hanson.

Jadii, mari, tante kenalkan dengan salah satu grup yang pernah berjaya di era 90-an. Lanjutkan membaca “Apa Kabarmu, Hanson?”

Hotel, Apartemen dan Wanita di Dalam Boks.

Masih ingat cerita gue tentang hotel Aston yang lalu?

Postingan kali ini masih berkaitan dengan si hotel Aston. Tepatnya Aston Marina Ancol. Hotel itu lagi? Haha. Udahlah ya namanya gak perlu disamarkan lagi, sudah pada tahu juga kok..

Yang pasti, setelah cerita ini gue tulis, hotel Aston Ancol masih menjadi top list hotel favorit gue di Jakarta. Alasannya simple, cuma karena ada dapurnya, buebok.

Sangat cocok untuk liburan keluarga. Seperti lebaran lalu ketika kami mengajak keponakan-keponakan dari luar kota main ke Ancol. Libur lebaran ke Ancol? Luar biasaaa.. Luar biasa nekad, maksudnya.

Begini teman-teman, sebagai anak yang tinggal di daerah, bisa ke Ancol itu sudah impian banget loh. Dulu gue juga begitu. Sependek ingatanku, kayaknya gue nggak pernah berkhayal ingin lihat Tanah Abang atau ke pasar onderdil Senen, misalnya. Tetap Dufan dan Ancol, is the best.

img20160708173733-01.jpeg
But, first let me take selfie #relationshipgoals #wheninAncol

Lanjutkan membaca “Hotel, Apartemen dan Wanita di Dalam Boks.”

Meet Joe (not Black)

Selamat datang di postingan blog yang ke 101..

Wow! Sudah 100 postingan. Produktif sekali ya.. Sayangnya jumlah ini sudah terkumpul hampir 10 tahun. Artinya selama setahun aku cuma rata-rata menulis 10 postingan. Produktif dari mane?

Nah cerita kali ini lebih istimewa, karena gue baru saja ketemuan dengan teman baru. Bukan, bukan Joe Black-nya Brad Pitt.. Anggap aja akiyuh bingung mau kasih judul apa. Tapi beneran, gue baru aja ketemuan dengan teman blogger.

Ciailaaaah, gaya yaak. Padahal yang lain sudah dari duluuuu jaman rikipik kenal dekat dan menjadi saudara dari blogger, gue baru pertama kali kopi darat di tahun 2016. Lanjutkan membaca “Meet Joe (not Black)”

Menanti Kereta Mini..

slpct
Halo dari saya yang badan pegal pengen banget dipijet..

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Saya mohon maaf lahir batin ya teman-teman, mungkin selama ini ada postingan atau kata-kata yang tidak berkenan.

Masih dalam rangka lebaran, kali ini gue bercerita tentang kereta mini di rumah ibuku. Ada hubungannya nggak? Kayaknya sih nggak ya..

*** Lanjutkan membaca “Menanti Kereta Mini..”

Cari ke mana lagi?

Masih ingat cerita tentang Pak Tamrin dan Mami Ade?

Gue mau ngomongin beliau lagi yak..

Beberapa hari yang lalu Pak Tam, Tamrin, bukan Tamara diminta tolong oleh kakak ipar gue, Mami Ade untuk membawa tas milik kakak ipar gue yang di Medan, ke toko reparasi kulit, Laba-Laba..

Mami Ade     : ” Pak Tamrin, tolong anterin tas ke Laba-laba ya Pak.. Minta tolong bilang aja ini tas yang harus direparasi, Pesanan dari bu Alya yang tadi telpon, begitu ya.”
Pak Tamrin   : ” Dianterin ke mana bu?”
Mami Ade     : ” Anterin ke toko Laba-Laba. Tokonya ada di Panglima Polim, Barito pak. Atau ada juga yang di Arteri Pondok Indah. Terserah enakan di mana. Gede kok plang tokonya, nanti kalau bingung tanya aja di sekitaran sana ya Pak..”

Setelah mengantar Mami Ade ke kantornya, berangkatlah Pak Tamrin membawa misi membetulkan tas kakak ipar ke Panglima Polim.

Beberapa jam berlalu.

Hari sudah melewati tengah hari. Matahari sedang bekerja keras memancarkan sinarnya. Dan Pak Tamrin yang belum juga sampai di rumah. Mengingat jarak dan lokasi serta mudahnya misi yang diemban, seharusnya Pak Tamrin sudah kembali ke rumah beberapa saat yang lalu.

Mami Ade, sang kakak ipar gue, menelpon Pak Tamrin.

Mami Ade     : ” Pak Tamrin di mana? ”
Pak Tamrin   : ” Saya masih di Barito bu.. Susah ni bu Ade, cari tokonya..”
Mami Ade     : ” Lah, belum ketemu? Tempatnya ada di deretan toko bahan bangunan itu..Coba cari dulu..”
Pak Tamrin   : ” Saya sudah cari keliling, bu.. Nggak ketemu juga.”
Mami Ade     : ” Masak sih pak.. Ada pak, gede tokonya. Sudah tanya sekeliling?”
Pak Tamrin   : ” Sudah bu. Ngga ada yang tahu..”
Mami Ade     : ” Coba tanya sekitar situ pak.. Nanti kabari saya ya..”
Pak Tamrin   : ” Ya bu..”

Mami Ade meletakkan handphonenya. Beliau masih bingung, mengapa sulit sekali menemukan toko dengan nama yang tidak biasa tersebut. Kalau bisa dibilang, bahkan toko ini tidak ada pesaingnya..

Beberapa waktu kemudian..

Mami Ade      : ” Gimana pak Tamrin. Sudah ketemu belum?”
Pak Tamrin   : ” Nggak ada bu.. Nggak ada yang tahu.”
Mami Ade      : ” Sudah nanya orang-orang, pak?”
Pak Tamrin   : ” Iya, saya nanya orang-orang di sini..”
Mami Ade      : ” Mmmmm.. Pak Tamrin nanyanya gimana? Toko reparasi tas Laba-Laba kan?”
Pak Tamrin   : ” Iya, saya nanya.. Toko Abal-abal ada di mana? Eh Abal-Abal. Eh. Loh nama tokonya Laba-laba ya bu?”
Mami Ade : ” …”

Ngomongin Suamik - part 2

***

BAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAA

Gue yang mendengar cerita ini cuma bisa ngakak nggak berkesudahan.
Pak Tamriiin, mau sampai Paris Hilton berubah wujud jadi Boyolali Hilton, nggak bakalan ketemu itu toko Abal-abal…

Ya Begitulah, Anakku..

img_20160625_124118.jpg

20140320_045658

e94dd29fa7d3a8604270837f8745a1cb-01
..behind the scene..|”Aidan, lihat..lihat! Itu difoto itu” | “Eh kuciing, jangan main di situu..”

Halo bulan juni yang mendung.. Selamat puasa bagi teman-teman muslimku.. Kembali hadir di sini saya dan si anak kecil, Aidan. Mumpung ingat, gue tulis beberapa celotehan Aidan seperti yang lalu-lalu..

***

  • Kok, jadi horor?

Perut gue jenisnya awet kan yah, awet mirip seperti hamil, maksudnya. Jadi, sudah biasa tuh kalau anak gue mengelus-elus perut gue sambil bilang sayang-sayang ke calon adik bayi.

Hiks, iya.. Sama, gue juga ngerti karena ini adalah moment mengharukan di mana anak lo udah kepengen punya adek bayi.. Tapi gimana dong, kakaakk..

Nah, suatu hari Aidan sedang mengelus-elus perut gendut hamil imaginer milik emaknya.

Gue      : ” Aidan pengen punya adek bayi ya?”

Aidan   : ” Iyaaa..”

Lalu dia bergerak ke belakang menuju punggung gue ” Mami, Aidan mau sayang-sayang.. buka dulu punggungnya.. Aidan mau elus adek bayi”

*emak cuma menatap horor* Lanjutkan membaca “Ya Begitulah, Anakku..”

Antarlah Daku, Kau Kutinggal..

https://i2.wp.com/ak-hdl.buzzfed.com/static/enhanced/webdr05/2013/5/30/18/anigif_enhanced-buzz-23244-1369954558-1.gif
.. halo semuwah! ada keriaan apa di sini?…

Kali ini gue bercerita tentang kakak ipar dan supir mertua gue.

Mami Ade. Beliau adalah istri dari kakak suamik. Gue memanggil beliau dengan Mami Ade atau Wodank Ade. Wodank dalam bahasa Lampung berarti panggilan untuk anak sulung perempuan.

Pak Tam.. Nama Lengkap Tamrin, bukan Tamara. Beliau adalah asisten driver yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah mama mertua.

***

Pak Tamrin ini memiliki satu kebiasaan yang selalu tercantum dalam kolom-kolom CV yaitu “Inisiatif, aktif dan proaktif, aspiratif, radioaktif, representatif”, pokoknya yang belakangnya ada tif tifnya deh… Inisiatif seperti apa? Biasanya sih kalau nyupir, beliau sering mengambil jalan dengan pertimbangan sendiri.. Oh apakah melihat apps. Waze dan Google map? Ya nggak laaah cuy, hidup handphone poliklinik eh poliponic..

Hanya inisiatif memilih jalan itu berbuntut dengan terjebak kemacetan atau menempuh rute yang lebih jauh untuk sampai ke tujuan.. Untungnya Pak Tamrin ini sudah seperti keluarga sendiri, jadi namanya keluarga.. kalaupun ada kalanya sebel, tapi nggak pernah jadi satu masalah yang besar..

Nah dalam cerita kali ini gue bercerita tentang salah satu inisiatif pak Tamrin. Lanjutkan membaca “Antarlah Daku, Kau Kutinggal..”

Status jadul. Kalau dibuang, sayang..

Suatu hari terjadi pembahasan tentang drama Path di salah satu grup whatssap gue, Sotong Pembela Kebenaran.

Sotong 1   : ” Gue kan tadi pagi deaktivasi path, belum nempel pantat gue di bangku kantor.. udah ada yang mengira gue ngedelete dia dari path. Zzzzzz emang paling bener dah diapus aja..”
Sotong 2   : “Hih, anak-anak di path baper bener yak. Iiih kok post aku gak direspoon sih? Semacam itu kan?”
Sotong 3   : ” Segitunya ya hahahha”
Sotonng 2 : ” Emang path-nya sih yang mendukung. Yang paling nggak banget tuh kan post bisa keliatan siapa yang liat, siapa yang nggak. Pasti lah baper, misal ada yang gak lope lope post lo dan lain-lain #eaaak*
Sotong 1   : ” Ada juga yang sempet ngambek sama gue seminggu gara-gara nggak gue add. Padahal baru bikin path 2 MINGGU! ”

Gue masih ngakak kalau ingat gimana gemesnya temen gue, si Sotong 1, ini bercerita tentang kekesalannya di dunia path. EH gue sedang tidak menyindir teman-teman yang main path ya. Sama sekali tidak, karena gue juga pernah masuk ke jamaah pathiyah dengan segala keriuhannya.

Gue pun pernah melakukan kebiasaan khas kaum pathiyah. Pamer terselubung? #check. Nyindir nomention #check. Sebel ama postingan yang pamernya norak #check. Menemukan bahwa ada teman gue yang melakukan segala cara demi pencitraannya #check.

Gaga Eye Roll
.. kami, ketika melihat postingan Path yang bo’ong banget..

Untung teman-temanku sudah pada dewasa bersosmed, jadi path gue timelinenya masih menghibur, *cough* ya tetep ada sih, segelintir yang norak *cough*. Lanjutkan membaca “Status jadul. Kalau dibuang, sayang..”

Nguping Ibuk #7

Tadinya postingan ini mau gue publish bertepatan ultah Ibuku yang jatuh tidak jauh dari hari Kartini…

Tapi tentu saja aku telat.

Basi, madingnya sudah terbit.. Eiiit mbak Cinta, ingat ya ada pepatah yang mengatakan, mending telat daripada nggak dapat sama sekali looh #wajahpolos *lalu toss sama test pack*..

Waktu itu gue lagi ngapain ya? Oh tentoe sadja sibuk nonton DoTS.. (DoTS maning, DoTS maning.. Ih nggak papa sih, mumpung lagi demen drama korea.. Siapa tahu besok berubah lagi, suka dengan drama Namibia, misalnya.. )

Jadi, bagaimana kabar Ibuk?

***

  • Tentang kulit kombinasi

Ibuk  : ” Kok bisa ya ada kulit kombinasi.”

Gue  : ” Emang ada bu, ada yang kulit normal kombinasi kering, ada yang kulit normal kombinasi berminyak.”

Ibuk  : ” Tapi kalau Ibuk ini kok kulitnya hitam kombinasi ama putih?”

buk, yang kombinasi wajahnya hitam dan putih kan ini…

fail panda falling

*** Lanjutkan membaca “Nguping Ibuk #7”

Apa yang kau cari, kisanak?

Beginilah kalau blog sudah lama dianggurin tapi tidak ada ide untuk menulis. Oleh sebabnya, gue berterima kasih dengan fitur ‘search term’ yang nyasar sampai ke blog ini, karena gue bisa sedikit terhibur bacanya..

d2762-awkward.gif
gue. ketika membaca search terms absurd..

***

Ternyata seru juga bikin rekapan search keywords ini. Tahun lalu hampir rata-rata yang mampir ke blog gue masih mencari seputar per-bokepan. Yah, tahun ini juga sih, tapi kayaknya sekarang sudah lebih mendingan. Lebih aneh juga, pastinya.

Tapi ada yang berbeda dalam dua bulan terakhir ini, karena ketika gue membuka dashboard wordpress, kata pengacu yang mampir ke situs ini sudah lebih ‘normal’.. Dan kategori normal di sini adalah sebagian besar mereka mencari informasi tentang drama korea : Descendant of The Sun alias DoTS.. *belum tau drama ini? Tontooon sekarang juga.. agar mengerti apa yang kami rasakan, mueahahahah*

image_zpsxbgaqixy.gif

Lanjutkan membaca “Apa yang kau cari, kisanak?”

Pacar Ketinggalan Kereta..

Bukan, ini bukan tentang filmya Ongky Alexander dan Nurul Arifin kok, cuma judulnya saja yang rada mirip sama ceritanya suamik. Dengan kata lain, nggak ada ide mau kasih judul apa.

***

Beberapa hari yang lalu, Suamik dinas ke Yogyakarta. Dan pada hari kepulangannya ke Jakarta, Suamik dan Andri, salah satu rekan kerjanya, mengambil penerbangan pagi. Tepatnya, pukul 07.15 WIB.

Kalau penerbangan pagi dari Jakarta, kita harus selalu berangkat minimal 2 jam sebelumnya kan? Lewat dari itu, dengan kondisi jalanan yang tidak bisa diprediksi, bersiap-siaplah menempuh kemacetan dengan jantung dag dig dug dor. Jadi daripada terburu-buru, suamik yang time managementnya lebih mendingan dibanding gue, memutuskan untuk berangkat pagi-pagi buta. Saking butanya, ayam belum kelar tereak-tereak menyenandungkan lagu kukuruyuk, suamik dan rekannya sudah dalam perjalanan menuju bandara.

Ternyata kalau di Yogya, tidak sampai 15 menit perjalanan, mereka sudah sampai di bandara. Enak banget ya..

***

Baru saja duduk, bapak-bapak ini mendapati kabar bahwa penerbangan mereka akan mengalami sedikit keterlambatan. Ah, delay lagi.. cerita lama ituu..

Karena waktunya masih lama, mereka masih bisa ngobrol santai sambil menunggu kedatangan pesawat..

Suamik   : ” Iya Ndri, jadi satu ditambah satu itu sama dengan dua..”
Andri      : ” Oh gitu ya pak, saya pikir satu ditambah satu sama dengan dua..”
Suamik   : ” Iya, padahal sebenarnya satu ditambah satu sama dengan dua, kan ya?”

*seperti biasa, si penulis sedang setres dengan percakapan virtual ini*  Lanjutkan membaca “Pacar Ketinggalan Kereta..”